Total Pageviews

Sunday, October 10, 2010

Negeri Seribu Satu Sinetron

Apa yang bisa Anda andalkan dari bangsa kita? Negeri seribu pulau? Keindahan panorama? Kekayaan alam? Bangsa yang ramah tamah? Keberagaman suku dan budaya? Kuliner yang eksotis rasanya? Sepertinya semua hal tersebut hanya ada dalam buku PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Bagi yang digital immigrant, sudah pasti sangat mengenali pelajaran sekolah yang satu ini, di mana doktrin-doktrin tentang moral dan etika berbangsa dan bernegara di pelajari secara membosankan. Saat itu pengendali Negara mencoba untuk membentuk moral dan karakter bangsa agar berbudi pekerti luhur, santun dan ramah tamah. Seharusnya generasi yang mendapatkan pelajaran PMP ini sekarang sudah menjadi wakil-wakil rakyat di DPR, menjalankan pemerintahan, ekonomi dan militer termasuk juga menjadi rakyat yang menjalani perannya sebagai unsur terpenting sebuah Negara. Seharusnya generasi yang kita sebutkan di atas tadi telah membuat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudi pekerti luhur, bergotong royong, ramah tamah dan mengangkat kehebatan dan kebesaran negeri seribu pulau, keindahan panoramanya, keramahtamahannya, keberagaman suku dan budayanya dan ke-eksotisan rasa kulinernya agar benar-benar bisa dibanggakan dan bukan hanya tertulis pada buku-buku PMP saja. Namun yang terjadi adalah negeri seribu pulau sudah tidak menjadi ribuan lagi karena Negara tetangga mencaplok beberapa pulau, keindahan panorama sudah tidak indah lagi karena penambangan liar dan lumpur Lapindo memburukkan rupa panorama, kekayaan alam hanya kekayaan alam dimana rakyat tidak merasakan hasil kekayaan tersebut secara merata, dan yang paling mengenaskan adalah image keramahtamahan bangsa ini terjungkir balikkan dengan kekerasan-kekerasan yang ditunjukkan pada setiap kali demonstrasi yang bahkan kekerasan itu sendiri dilakukan oleh MAHASISWA yang memang sudah dikenal sebagai agen pembaharuan, yang sering berteriak-teriak tentang idealisme. Bebicara soal perilaku Mahasiswa tidak ada apa-apanya jika  melihat perilaku anggota-anggota dewan yang terhormat pada saat sidang. Memaki, menghina, mengejek, memukul dan semua hal yang jauh dari kata santun dan ramah tamah, markas besar dan sarangnya berada di sana. Belum lagi korupsi. Polisi? Gampang…tinggal panggil aja SJ, selesai urusan.  Masih banyak lagi yang bisa kita sebutkan tentang kondisi bangsa ini yang sudah sangat kronis. Belum lagi berbicara soal kedisiplinan dan birokrasi.
Salah satu penyebab besar mengapa bangsa ini mengalami keterpurukan dan degradasi moral adalah pelaku-pelaku dunia hiburan. Sepele memang. Tapi Saya percaya diri untuk memilih mereka sebagai biang utama rusaknya moral bangsa. Semua ini diawali dengan bermunculannya stasiun-stasiun televisi swasta. Saya masih ingat ketika masih duduk di bangku SMP, saat terpilih sebagai salah satu siswa yang akan berdialog secara langsung dengan presiden saat itu, ketika peresmian stasiun Televisi Pendidikan Indonesia. Dengan bangga dan terharu, masyarakat saat itu menonton bahwa telah ada stasiun televisi yang akan memberikan kontribusi positif bagi pendidikan Indonesia. Siswa-siswi SMP dari beberapa provinsi di Indonesia digunakan sebagai simbol peresmian untuk menguatkan image di masyarakat bahwa televisi ini memang ditujukan bagi dunia pendidikan. Memang awalnya (dan tidak berlangsung lama) stasiun televisi tersebut menyuguhkan program-program pendidikan. Namun seperti yang Anda saksikan sekarang, sinetron-sinetron yang beraroma mistik, materialistis, konser-konser dangdut dengan goyangan yang tidak cerdas menjadi sajian utama dalam siaran pendidikan. Stasiun-stasiun televisi lainnya pun bermunculan dan ikut-ikutan menawarkan paket-paket program hiburan yang tidak cerdas kepada pemirsa Indonesia. Lihat saja seperti sinetron-sinetron yang kebanyakan tidak bermutu, yang hanya memainkan emosi penonton belaka, yang menurut produser-produser dan direktur-direktur  program televisi, sebahagian besar penonton di Indonesia berasal dari target audience kelas menengah kebawah sehingga cerita dan bagaimana sinetron itu disajikan adalah untuk menarik sebanyak-banyaknya pemirsa dari segmentasi tersebut. Perhitungan ini cerdas tapi kejam. Sebab, tayangan-tayangan yang diberikan justru membuat masyarakat menengah kebawah tersebut menjadi lebih ke bawah dalam budaya, selera, orientasi dan pengetahuan. Setingan seperti ini sengaja dibuat agar masyarakat Indonesia lebih bersifat konsumtif sehingga produk-produk industri  yang menjadi sponsor utama tayangan-tayangan tersebut  jauh lebih laku dibeli dan digunakan oleh masyarakat. Tidak puas dengan setingan ini, pihak-pihak stasiun televisi ingin lebih mengambil keuntungan dengan cara meningkatkan harga tayang sinetron dan lain-lain. Caranya adalah dengan menyajikan lebih banyak porsi berita-berita selebritis sinetron supaya figur  artis lebih berada di hati penonton. Semua ini dilakukan untuk menjaga setingan dunia hiburan termasuk sinetron tetap menjadi alat ampuh dalam perputaran uang di dunia bisnis dan media. Pemerintah bukannya tidak mengerti, tetapi sekali lagi ya itu dia, pelaku-pelaku pemerintahan yang telah mengenyam pelajaran PMP dulunya dengan sengaja membiarkan kondisi ini agar devisa Negara lebih banyak masuk seiring meningkatnya penjualan dan omset perusahaan-perusahaan yang menjual produknya ke masyarakat akibat Iklan dan gaya hidup selebritis yang dihebohkan oleh pelaku-pelaku industri  hiburan televisi di tanah air. Walaupun sebenarnya tidak berpengaruh apapun sebab, sebahagian besar perusahaan –perusahaan tersebut menggelapkan pajak mereka dengan bantuan Gayus. Mengenaskan lebih tepat dipilih untuk menggambarkan situasi ini dari pada kata “menyedihkan”.
Seharusnya pemerintah mengendalikan budaya dan moral bangsa ini dengan menerapkan batasan dalam peraturan tegas agar dunia pertelevisian menjadi alat ampuh untuk membangun karakter masyarakat yang positif. Cerdas dan bijak dalam hal ini untuk tidak mendengarkan alasan demokrasi jika dengan demokrasi itu sendiri bangsa akan jatuh dan tercabik-cabik. Soalnya bangsa kita suka ikut-ikutan. Orang-orang pada bicara demokrasi, kita ikutan berteriak walaupun bangsa ini sendiri tidak tahu bagaimana menerapkannya secara benar hingga akhirnya demokrasi dan kebebasan berpendapat tanpa batas tersebut sudah menjadi agama baru yang belum ada presedennya sebelum ini. Pemerintah seharusnya merancang SOP, kebijakan dan batasan program secara cerdas dan menjadikan dunia televisi sebagai mitra untuk menyajikan program-program cerdas dalam membangun karakter bangsa tahap demi tahap. Ciptakan iklim positif dimana industri tidak hanya bertujuan meraup fulus semata, tetapi juga memiliki komitmen untuk menjaga kelestarian budaya dan moral bangsa. Jika industri pertambangan dan perhutanan harus mengedepankan kelestarian lingkungan hidup, maka industri hiburan dan televisi harus juga ditegaskan dibangun dengan mengedepankan kelestarian moral dan budaya serta tetap berkomitmen membangun karakter bangsa secara positif agar jangan sampai pemenang Indonesia Idol, ujung-ujungnya lagi-lagi berkarir di dunia sinetron.

No comments: