Aku masih ingat saat pertama kali kumengenal dirimu. Saat itu adalah salah satu hari di antara hari-hari musim kemarau suatu siang pukul 2.15. Kamu tiba2 saja masuk ke dalam rumahku. Lama sudah aku melihatmu dan menantikan saat itu. Tanpa basa basi akupun tergesa-gesa membawamu ke halaman belakang rumah. Hati-hati aku mengendap sambil mendekapmu karena aku tidak ingin seorang pun melihat apa yang akan kulakukan pada dirimu saat itu. Halaman belakang rumahku saat itu hanyalah sebuah lorong sempit yang diapit oleh dinding bagian belakang rumahku dan rumah tetangga. Aku merasa adrenalinku begitu terpacu ketika tanganku terus memegang tubuh rampingmu. Aku tak kuasa menahan bibirku untuk segera menyentuhmu. Oh, Tuhan..sentuhan pertama itu begitu membuatku melayang. Kenikmatan itu semakin membawaku ke langit ketika kutahu bahwa aku sebenarnya belum pantas berhubungan denganmu. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang jika mereka melihat aku mencumbuimu saat itu? Aku tidak peduli. Yang jelas, sentuhanmu saat itu selalu membuatku mencuri waktu untuk bisa mencumbuimu. Tapi sayang, kita belum bisa sering bertemu. Saat itu aku tidak memiliki uang untuk bisa sering mendekati dan merayumu. Aku juga masih ingat suatu malam ketika bibirku mencumbuimu di kamar tidurku, ayahku masuk dan hanya memandang heran. Tapi anehnya beliau tidak marah. Saat itu aku berpikir ayahku pernah mengalami hal yang sama dulunya sehingga dia bisa memaklumi apa yang kulakukan pada dirimu. Aku juga masih ingat pernah beberapa kali aku mencoba untuk meninggalkanmu karena kamu sering menyakitiku. Tapi lagi-lagi kamu menunjukkan kesetiaanmu dan kesabaranmu kepadaku saat-saat aku mengalami kegetiran dalam hidup. Lagi-lagi bibirku mencumbui tubuh rampingmu. Kehangatan saat-saat musim yang dingin selalu kurasakan saat kamu bersamaku. Aku tidak bisa lepas dari dirimu. Masih ingatkah kamu saat bulan Ramadhan? Saat sebenarnya kita tidak boleh berhubungan? Tapi aku tidak pernah peduli. Yang aku tahu adalah diriku tidak pernah bisa menahan gejolak dari dalam untuk menggauli dan mencumbuimu saat itu.
Tanpa terasa 17 tahun telah berlalu dan selama itu pula kamu telah menemaniku setiap saat. Sekarang, aku sadar kamu munafik, kamu pembohong, kamu tidak pernah jujur kepadaku. Kamu tidak pernah mengatakan sekalipun kepadaku bahwa aku akan sakit jika terus berhubungan denganmu. Kamu selalu membuatku mengingat dan menginginkan dirimu pada saat sedikit demi sedikit kamu menanamkan rasa sakit dalam diriku. Akhirnya aku sadar tentang kebenaran yang sering dikatakan oleh orang-orang bahwa lebih baik aku tidak pernah berhubungan denganmu. Aku menyesal, karena dulunya aku tidak pernah peduli dengan apa yang mereka katakan. Karena saat itu mencumbuimu adalah sebuah kenikmatan. Memang itu harus kuakui. Tapi, saat ini aku harus bisa mendengarkan logika dan pikiranku ketimbang perasaan yang hanya ingin dekat dan selalu bersamamu. Logikaku berkata kita harus berpisah. Pikiranku berkata, sudah cukup kamu bersamaku. Aku sakit. Aku terkadang menderita. Maaf, aku harus berkata kepadamu bahwa sebenarnya aku tidak pernah mencintaimu. Yang ada hanyalah nafsu dan gairah untuk bisa selalu mencumbu bibirku ditubuhmu yang ramping itu. Maaf, kita harus berpisah. Lupakan saat-saat indah kita. Lupakan saat-saat aku terbangun di malam hari kamu selalu ada memberikanku kenikmatan. Aku harus pergi darimu. Tapi…aku tidak tahu bagaimana caranya. Setiap kali aku pergi meninggalkanmu, aku selalu kembali menjemput dan mencumbuimu. Aroma tubuhmu begitu menggoda. Katakan…katakan kepadaku bagaimana caranya agar aku tidak lagi mencarimu. Katakan bagaimana caranya agar aku bisa berpisah dari dirimu. Aku sakit. Tolong, jangan dekati aku lagi.
Dedicated to: Marlboro (red and light), @mild, Dji Sam Soe dan Dunhill (kita harus berpisah teman, karena kata pemerintah dan pacar, merokok bisa membahayakan kesehatan dan kejantanan yang aku miliki)_____
PIET-7 days to 30 Nov 2009
No comments:
Post a Comment