Di waktu-waktu yang lalu atau bahkan mungkin saat ini sebahagian besar khutbah dan ceramah di mesjid atau dimanapun sering diwarnai dengan tema-tema yang membangkitkan sikap dan perilaku protektif umat terhadap agama lain. Ini adalah hal yang sangat baik untuk menumbuhkan kesadaran umat terhadap bahaya yang bisa mengancam aqidah. Tapi jika melihat kedalam, kita rupanya sudah lama lupa siapa diri kita sebenarnya.
Kelupaan ini bisa diibaratkan seperti kita yang mendirikan pagar kokoh yang sangat tinggi dan terkunci rapat di sekeliling rumah untuk menghindari gangguan yang bisa saja datang setiap saat mengancam keamanan seisi rumah. Namun kita lupa bahwa sebuah rumah yang baik bukan hanya karena pagar halamannya yang tinggi dan kokoh untuk memberikan keamanan dari luar tetapi juga sangat penting dan krusial bahwa rumah yang baik itu sangat tergantung dari bagaimana penghuninya mampu mengatur seisi rumah agar kesehatan, pendidikan dan tumbuh kembang bisa terjadi dengan baik. Rumah yang baik juga ditentukan oleh pengetahuan yang pasti dari sang penghuni tentang dimana pakaian disimpan, dimana piring, payung, obat dan makanan diletakkan.
Kita tahu dimana mengambilnya saat kita membutuhkan benda-benda tersebut. Kita bisa segera mengambil payung saat kita harus buru-buru pergi di hari hujan. Kita tahu dimana tempat obat-obatan saat tetangga dalam keadaan darurat dan kita merasa wajib menolongnya.
Kita merasa nyaman mengundang tamu dan tetangga sebab rumah, perabot dan semua isinya tersusun rapi, bersih dan indah. Kita nyaman karena semuanya membuat kita sehat. Untuk apa pagar tinggi dan kokoh apabila isi rumah berantakan dan kotor?
Untuk apa bersikap terlalu protektif kepada pemeluk agama lain sedangkan kita sendiri tidak mengenal agama yang dianut secara lebih baik?
Kita lupa membenahi diri dengan segala pengetahuan yang baik dan menyeluruh tentang Islam. Kita merasa bahwa cukuplah sudah dengan keislaman ini saja dan tidak perlu mendalami segala sesuatu yang terkandung di dalamnya. Dan jika ada yang akan menggangu keislaman ini, maka yang akan dilakukan adalah menghilangkan gangguan walaupun cara yang ditempuh terkadang tidak menggunakan hikmah islami yang baik. Dan akhirnya kita melahirkan fanatik-fanatik buta.
Belajar adalah proses mengatur seluruh informasi secara sistematis dalam diri kita sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan. Mengatur semua petunjuk dan nilai-nilai islam dalam diri adalah rangkaian kegiatan belajar sehingga mengarahkah penganut agama ini untuk mempelajari Islam sebaik-baiknya dan sesempurna mungkin. Semua ini akan menjadi sebuah benteng pertahanan yang kuat dalam diri. Dengan demikian umat akan bersikap dan berlaku secara ”agungnya islam” terhadap agama lain. Semua ini terwujud karena Muslim telah mampu menghadirkan Islam yang sebenarnya pada dirinya...
Lucu sekali jika seorang Muslim bersikap protektif secara berlebihan terhadap penganut agama lain namun pada saat yang sama kelemahan muslim sendiri semakin membesar akibat telah terbiasa mempelajari Islam secara tidak menyeluruh
No comments:
Post a Comment