Total Pageviews
Sunday, October 10, 2010
Be Animal If You Want To Find A Great Romantic of Love
Beberapa waktu yang lalu aku nongkrong di sebuah kafe di Jogja dengan dua teman, Pierre dan Maya. Aku gak tau kenapa kita bisa ngomongin soal ketertarikan dengan lawan jenis. Ketertarikan yang gak bisa dijelaskan dengan logika. Kalo gak salah, Maya membicarakan sesuatu, tetapi aku gak tau apa sehingga aku berkomentar seperti ini: kebanyakan orang-orang pada punya standard tersendiri dalam menentukan pasangan ideal, seperti Oh aku suka cewek yang kayak gini, bla bla bla. Atau kalo cewek sering berkata, cowok yang sangat aku pengen seperti ini, itu dan lain-lain. Masing-masing orang punya standard yang beda dalam menentukan pasangan hidupnya dan berharap bisa menemukan pasangan seperti itu. But, sometimes it doesn’t make sense when we meet with somebody and we feel Oh God, she or he comes to my sense while she or he is not in it. He or she is not somebody we expect for falling in romantic live with us. He or she has nothing at all of my criteria. How come? Jangan heran seandainya situasi tersebut terjadi. Yang berperan dalam hal ini sebenarnya bukan logika pikiran ekspektasi tentang pasangan ideal yang telah kita tentuin dari dulu, tapi suatu persenyawaan kimia dalam tubuh yang sering kita sebut dengan konsep chemistry. Aku gak bisa menjelaskan bagaimana chemistry ini memainkan perannya saat tiba-tiba kita ketemu dengan seseorang dan langsung merasa Oh God, I really like him/her. Semua ekspektasi sifat dan karakter pasangan ideal yang kita inginkan buyar ketika chemistry itu mengambil peran. Kata Pierre, hey guys you need to know whatever we are, we are animal…we are animal. We smell it, we smell that chemistry which it can’t be explained what it smells like. But our body knows what smell it is..And when we smell it, we will never care anything except this woman or man should be in love with us. Whatever she/he is..! Menarik!!!!. Pernah liat binatang, kucing atau apapun? Mereka mencium sejenis bau dalam tubuh pasangannya dengan mengenduskan hidung ke tubuh lawan jenisnya. Ketika ketemu bau yang sesuai di lawan jenis..they do it!! So they do it after they smell it. Manusia sebenarnya juga seperti itu, kita mencium chemistry itu bukan dengan hidung physically seperti yang dilakukan oleh binatang. Tapi manusia memiliki indra yang lebih kompleks dan sempurna dimana fungsi dan kinerjanya terkadang belum bisa dijelaskan secara gamblang. Kita bisa merasa cocok dengan seseorang hanya dengan sedikit berinteraksi, sedikit mengenal dan sedikit memahami. Tapi kita merasa dan yakin bahwa dia adalah pasangan yang tepat. Tubuh dan perasaan langsung merespon 3 hal utama dalam hubungan, intimacy, passion dan commitment. And we are totally felt!!! Biasanya dalam hubungan yang seperti ini kita gak mau tau siapa dia dan bagaimana dia. Yang kita tau adalah semua sensor chemistry dalam tubuh dan perasaan tersentuh oleh chemistry yang dia miliki dan akhirnya membangkitkan keinginan intimacy, gairah dan komitmen yang harus segera dipenuhi. Pasangan yang menemukan hubungan dengan fenomena seperti ini lebih mampu menerima kekurangan pada pasangannya. Semua respon sesuai dan tetap menyatu oleh bahan dasar yang kita sebut chemistry tadi. Aku gak bermaksud mengecilkan kita sebagai manusia, tapi dalam hal ini aku hanya mau menjelaskan siapa kita sebenarnya. Apapun yang kita lakukan, kita tetap Hewan!!! Bullshit jika kita mendapatkan pasangan sesuai dengan kritera yang kita harap dan inginkan terus bisa hidup bersama selamanya tanpa menemukan chemistry yang cocok, tanpa keduanya bisa smell it. Aku gak heran dengan pasangan yang bisa menjalani The Great Romnatic of Love seumur hidup walau mereka dulunya gak pernah berpikir bahwa pasangan mereka berada dalam criteria yang mereka inginkan. Sekali lagi, chemistry memainkan peranannya. So guys, if you want to have a great romantic of love..be an animal, leave your humanity!!!
Woman Has A Strange Effect To A Man
Father, you are changed already..!
Am i?? the father asked
Yes you are changed. Why?
Your mother did!! The father emphasized
And the son said: Woman has a strange effect to a man
Begitu kata Gabriel Martin (Heath Ledger) saat terlibat percakapan sama ayahnya Benyamin Martin (Mel Gibson) dalam sebuah adegan film The Patriot (diputar lageee di TV semalam). Benyamin Martin adalah seorang jenderal milisi perjuangan kemerdekaan Amerika. Terkenal tangguh, penuh strategi dan cerdik menghancurkan baris kekuatan lawan. Inggris yang saat itu musuh Amerika sangat mengenal tokoh ini. Tidak ada pertempuran yang tidak dimenangkan oleh milisi jenderal ini. But anyway, dalam perbincangan di adegan tersebut, Benyamin Martin dengan mudahnya berkata: “Terkadang aku tidak bisa berkutik di depan ibu mu!!”
Wooow…a patriotic general, a tough guy, an unconquered guy said that!! Amazing. That is why a woman has a strange effect to a man.
Maksud aku menulis ini adalah hanya ingin menegaskan sisi luar biasa seorang wanita. Wanita bukan Cuma pendamping, istri ataupun (maaf aku suka dengan kata-kata ini) pelacur bagi suaminya. Tapi wanita juga adalah The Mother for her Hubby. Wanita yang seperti ini mampu menyempurnakan kehidupan seorang laki-laki. Whatever the man is, he is childish inside..Biar bagaimanapun seorang pria, menurut penelitian mereka lebih perasa sebenarnya dari wanita. Namun gaya tubuhnya saja yang tidak menunjukkan sifat tersebut. Laki-laki ibarat seoarang general di luar, pengatur dan tangguh. Tapi tetap saja sisi kekanakan mereka membutuhkan gaya kasih sayang seorang ibu. Jika hal ini mereka temukan pada wanita atau istri mereka, a perfect life as a man will be felt by a man!! They never walk to find another woman. So, if you want to be a good wife and woman, be a mother for your hubby as the Man knows…a woman has a strange effect to a man.
Aku Harus Meninggalkanmu..(Maaf)
Aku masih ingat saat pertama kali kumengenal dirimu. Saat itu adalah salah satu hari di antara hari-hari musim kemarau suatu siang pukul 2.15. Kamu tiba2 saja masuk ke dalam rumahku. Lama sudah aku melihatmu dan menantikan saat itu. Tanpa basa basi akupun tergesa-gesa membawamu ke halaman belakang rumah. Hati-hati aku mengendap sambil mendekapmu karena aku tidak ingin seorang pun melihat apa yang akan kulakukan pada dirimu saat itu. Halaman belakang rumahku saat itu hanyalah sebuah lorong sempit yang diapit oleh dinding bagian belakang rumahku dan rumah tetangga. Aku merasa adrenalinku begitu terpacu ketika tanganku terus memegang tubuh rampingmu. Aku tak kuasa menahan bibirku untuk segera menyentuhmu. Oh, Tuhan..sentuhan pertama itu begitu membuatku melayang. Kenikmatan itu semakin membawaku ke langit ketika kutahu bahwa aku sebenarnya belum pantas berhubungan denganmu. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang jika mereka melihat aku mencumbuimu saat itu? Aku tidak peduli. Yang jelas, sentuhanmu saat itu selalu membuatku mencuri waktu untuk bisa mencumbuimu. Tapi sayang, kita belum bisa sering bertemu. Saat itu aku tidak memiliki uang untuk bisa sering mendekati dan merayumu. Aku juga masih ingat suatu malam ketika bibirku mencumbuimu di kamar tidurku, ayahku masuk dan hanya memandang heran. Tapi anehnya beliau tidak marah. Saat itu aku berpikir ayahku pernah mengalami hal yang sama dulunya sehingga dia bisa memaklumi apa yang kulakukan pada dirimu. Aku juga masih ingat pernah beberapa kali aku mencoba untuk meninggalkanmu karena kamu sering menyakitiku. Tapi lagi-lagi kamu menunjukkan kesetiaanmu dan kesabaranmu kepadaku saat-saat aku mengalami kegetiran dalam hidup. Lagi-lagi bibirku mencumbui tubuh rampingmu. Kehangatan saat-saat musim yang dingin selalu kurasakan saat kamu bersamaku. Aku tidak bisa lepas dari dirimu. Masih ingatkah kamu saat bulan Ramadhan? Saat sebenarnya kita tidak boleh berhubungan? Tapi aku tidak pernah peduli. Yang aku tahu adalah diriku tidak pernah bisa menahan gejolak dari dalam untuk menggauli dan mencumbuimu saat itu.
Tanpa terasa 17 tahun telah berlalu dan selama itu pula kamu telah menemaniku setiap saat. Sekarang, aku sadar kamu munafik, kamu pembohong, kamu tidak pernah jujur kepadaku. Kamu tidak pernah mengatakan sekalipun kepadaku bahwa aku akan sakit jika terus berhubungan denganmu. Kamu selalu membuatku mengingat dan menginginkan dirimu pada saat sedikit demi sedikit kamu menanamkan rasa sakit dalam diriku. Akhirnya aku sadar tentang kebenaran yang sering dikatakan oleh orang-orang bahwa lebih baik aku tidak pernah berhubungan denganmu. Aku menyesal, karena dulunya aku tidak pernah peduli dengan apa yang mereka katakan. Karena saat itu mencumbuimu adalah sebuah kenikmatan. Memang itu harus kuakui. Tapi, saat ini aku harus bisa mendengarkan logika dan pikiranku ketimbang perasaan yang hanya ingin dekat dan selalu bersamamu. Logikaku berkata kita harus berpisah. Pikiranku berkata, sudah cukup kamu bersamaku. Aku sakit. Aku terkadang menderita. Maaf, aku harus berkata kepadamu bahwa sebenarnya aku tidak pernah mencintaimu. Yang ada hanyalah nafsu dan gairah untuk bisa selalu mencumbu bibirku ditubuhmu yang ramping itu. Maaf, kita harus berpisah. Lupakan saat-saat indah kita. Lupakan saat-saat aku terbangun di malam hari kamu selalu ada memberikanku kenikmatan. Aku harus pergi darimu. Tapi…aku tidak tahu bagaimana caranya. Setiap kali aku pergi meninggalkanmu, aku selalu kembali menjemput dan mencumbuimu. Aroma tubuhmu begitu menggoda. Katakan…katakan kepadaku bagaimana caranya agar aku tidak lagi mencarimu. Katakan bagaimana caranya agar aku bisa berpisah dari dirimu. Aku sakit. Tolong, jangan dekati aku lagi.
Dedicated to: Marlboro (red and light), @mild, Dji Sam Soe dan Dunhill (kita harus berpisah teman, karena kata pemerintah dan pacar, merokok bisa membahayakan kesehatan dan kejantanan yang aku miliki)_____
PIET-7 days to 30 Nov 2009
Seharusnya Aku Telah Sangat MencintaiMu
Aku menatap langit di ufuk barat. Matahari sedang terbenam saat itu dan bangau-bangau berterbangan ke selatan. Semua ini membuatku berpikir bahwa aku tidak merindukanMu dulunya. Aku juga tidak menderita. Apa yang tidak membunuhku, akan membuat diriku menjadi lebih tangguh.
Aku merasa bahwa musim ini telah berubah menjadi dingin namun cengkeramannya masih berada dalam kehangatan. Suatu malam lainnya di pengadilan dengan percobaan tuntutan lama yang sama. Kasus pun dilanjutkan. Pertanyaan-pertanyaan lama yang sama juga ditanyakan lagi dan yang akhirnya menimbulkan penolakan yang sama.
Bayang-bayang berlari berdekatan seperti anggota-anggota hakim pengadilan itu. Aku mencoba bermain api dengan mencari jawaban-jawaban di dalam bara. Mengapa dulunya aku kehilangan pada keseluruhan arah itu? Pertanyaan ini hanyalah membuatku lagi-lagi berpikir untuk mengatakan “Aku tidak ingat sama sekali..”
Musim kembali berganti dan jari-jarinya yang dingin seperti merayap ke dalam tulangku saat malam. Kenangan-kenangan ini tidak pernah tidur dan semuanya terasa berbeda. Aku meminjam sebuah jubah untuk memberikan jarak yang berarti di antara kita. Semua kenangan itu akhirnya membuatku bertanya mengapa keyakinan ini membenarkan kebingunganku tentang keadaan bahwa seharusnya sekarang ini aku telah mencintaiMu?
Kekuatan apa yang telah mengikat bintang-bintang itu? Aku menanyakan hal itu saat aku memakai topeng untuk menyembunyikan bekas goresan luka di wajahku. Dan saat aku tidak pernah bisa menemukan suatu tempat untuk bersembunyi, aku juga bertanya tentang kekuatan apa yang telah membuat air laut ini menjadi pasang?
Apa yang menggerakkan bumi mengitari matahari dan apa yang bisa kulakukan selain lari, lari dan lari?. Takut akan kebaikan, takut akan kegagalan. Aku merasa seperti tiang tanpa layar saat kuku-kuku jari bulan sudah mulai terbenam.
Hari yang lain telah dimulai dan aku berpikir bahwa ketidakpedulian ini dulunya adalah hasil dari perbuatanku saat aku melakukan segalanya untuk mencari perhatianMu. Dulunya Kau adalah petunjuk, standar ukuranku, peta yang selalu kugunakan. Kata-kataMu adalah harta yang terpendam. Jika semua ini memang benar, hal terakhir yang kuharapkan, seperti yang dilakukan oleh para penuntut yang masih tersisa “Aku pasti telah sangat mencintaiMu saat ini…”
Negeri Seribu Satu Sinetron
Apa yang bisa Anda andalkan dari bangsa kita? Negeri seribu pulau? Keindahan panorama? Kekayaan alam? Bangsa yang ramah tamah? Keberagaman suku dan budaya? Kuliner yang eksotis rasanya? Sepertinya semua hal tersebut hanya ada dalam buku PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Bagi yang digital immigrant, sudah pasti sangat mengenali pelajaran sekolah yang satu ini, di mana doktrin-doktrin tentang moral dan etika berbangsa dan bernegara di pelajari secara membosankan. Saat itu pengendali Negara mencoba untuk membentuk moral dan karakter bangsa agar berbudi pekerti luhur, santun dan ramah tamah. Seharusnya generasi yang mendapatkan pelajaran PMP ini sekarang sudah menjadi wakil-wakil rakyat di DPR, menjalankan pemerintahan, ekonomi dan militer termasuk juga menjadi rakyat yang menjalani perannya sebagai unsur terpenting sebuah Negara. Seharusnya generasi yang kita sebutkan di atas tadi telah membuat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudi pekerti luhur, bergotong royong, ramah tamah dan mengangkat kehebatan dan kebesaran negeri seribu pulau, keindahan panoramanya, keramahtamahannya, keberagaman suku dan budayanya dan ke-eksotisan rasa kulinernya agar benar-benar bisa dibanggakan dan bukan hanya tertulis pada buku-buku PMP saja. Namun yang terjadi adalah negeri seribu pulau sudah tidak menjadi ribuan lagi karena Negara tetangga mencaplok beberapa pulau, keindahan panorama sudah tidak indah lagi karena penambangan liar dan lumpur Lapindo memburukkan rupa panorama, kekayaan alam hanya kekayaan alam dimana rakyat tidak merasakan hasil kekayaan tersebut secara merata, dan yang paling mengenaskan adalah image keramahtamahan bangsa ini terjungkir balikkan dengan kekerasan-kekerasan yang ditunjukkan pada setiap kali demonstrasi yang bahkan kekerasan itu sendiri dilakukan oleh MAHASISWA yang memang sudah dikenal sebagai agen pembaharuan, yang sering berteriak-teriak tentang idealisme. Bebicara soal perilaku Mahasiswa tidak ada apa-apanya jika melihat perilaku anggota-anggota dewan yang terhormat pada saat sidang. Memaki, menghina, mengejek, memukul dan semua hal yang jauh dari kata santun dan ramah tamah, markas besar dan sarangnya berada di sana. Belum lagi korupsi. Polisi? Gampang…tinggal panggil aja SJ, selesai urusan. Masih banyak lagi yang bisa kita sebutkan tentang kondisi bangsa ini yang sudah sangat kronis. Belum lagi berbicara soal kedisiplinan dan birokrasi.
Salah satu penyebab besar mengapa bangsa ini mengalami keterpurukan dan degradasi moral adalah pelaku-pelaku dunia hiburan. Sepele memang. Tapi Saya percaya diri untuk memilih mereka sebagai biang utama rusaknya moral bangsa. Semua ini diawali dengan bermunculannya stasiun-stasiun televisi swasta. Saya masih ingat ketika masih duduk di bangku SMP, saat terpilih sebagai salah satu siswa yang akan berdialog secara langsung dengan presiden saat itu, ketika peresmian stasiun Televisi Pendidikan Indonesia. Dengan bangga dan terharu, masyarakat saat itu menonton bahwa telah ada stasiun televisi yang akan memberikan kontribusi positif bagi pendidikan Indonesia. Siswa-siswi SMP dari beberapa provinsi di Indonesia digunakan sebagai simbol peresmian untuk menguatkan image di masyarakat bahwa televisi ini memang ditujukan bagi dunia pendidikan. Memang awalnya (dan tidak berlangsung lama) stasiun televisi tersebut menyuguhkan program-program pendidikan. Namun seperti yang Anda saksikan sekarang, sinetron-sinetron yang beraroma mistik, materialistis, konser-konser dangdut dengan goyangan yang tidak cerdas menjadi sajian utama dalam siaran pendidikan. Stasiun-stasiun televisi lainnya pun bermunculan dan ikut-ikutan menawarkan paket-paket program hiburan yang tidak cerdas kepada pemirsa Indonesia. Lihat saja seperti sinetron-sinetron yang kebanyakan tidak bermutu, yang hanya memainkan emosi penonton belaka, yang menurut produser-produser dan direktur-direktur program televisi, sebahagian besar penonton di Indonesia berasal dari target audience kelas menengah kebawah sehingga cerita dan bagaimana sinetron itu disajikan adalah untuk menarik sebanyak-banyaknya pemirsa dari segmentasi tersebut. Perhitungan ini cerdas tapi kejam. Sebab, tayangan-tayangan yang diberikan justru membuat masyarakat menengah kebawah tersebut menjadi lebih ke bawah dalam budaya, selera, orientasi dan pengetahuan. Setingan seperti ini sengaja dibuat agar masyarakat Indonesia lebih bersifat konsumtif sehingga produk-produk industri yang menjadi sponsor utama tayangan-tayangan tersebut jauh lebih laku dibeli dan digunakan oleh masyarakat. Tidak puas dengan setingan ini, pihak-pihak stasiun televisi ingin lebih mengambil keuntungan dengan cara meningkatkan harga tayang sinetron dan lain-lain. Caranya adalah dengan menyajikan lebih banyak porsi berita-berita selebritis sinetron supaya figur artis lebih berada di hati penonton. Semua ini dilakukan untuk menjaga setingan dunia hiburan termasuk sinetron tetap menjadi alat ampuh dalam perputaran uang di dunia bisnis dan media. Pemerintah bukannya tidak mengerti, tetapi sekali lagi ya itu dia, pelaku-pelaku pemerintahan yang telah mengenyam pelajaran PMP dulunya dengan sengaja membiarkan kondisi ini agar devisa Negara lebih banyak masuk seiring meningkatnya penjualan dan omset perusahaan-perusahaan yang menjual produknya ke masyarakat akibat Iklan dan gaya hidup selebritis yang dihebohkan oleh pelaku-pelaku industri hiburan televisi di tanah air. Walaupun sebenarnya tidak berpengaruh apapun sebab, sebahagian besar perusahaan –perusahaan tersebut menggelapkan pajak mereka dengan bantuan Gayus. Mengenaskan lebih tepat dipilih untuk menggambarkan situasi ini dari pada kata “menyedihkan”.
Seharusnya pemerintah mengendalikan budaya dan moral bangsa ini dengan menerapkan batasan dalam peraturan tegas agar dunia pertelevisian menjadi alat ampuh untuk membangun karakter masyarakat yang positif. Cerdas dan bijak dalam hal ini untuk tidak mendengarkan alasan demokrasi jika dengan demokrasi itu sendiri bangsa akan jatuh dan tercabik-cabik. Soalnya bangsa kita suka ikut-ikutan. Orang-orang pada bicara demokrasi, kita ikutan berteriak walaupun bangsa ini sendiri tidak tahu bagaimana menerapkannya secara benar hingga akhirnya demokrasi dan kebebasan berpendapat tanpa batas tersebut sudah menjadi agama baru yang belum ada presedennya sebelum ini. Pemerintah seharusnya merancang SOP, kebijakan dan batasan program secara cerdas dan menjadikan dunia televisi sebagai mitra untuk menyajikan program-program cerdas dalam membangun karakter bangsa tahap demi tahap. Ciptakan iklim positif dimana industri tidak hanya bertujuan meraup fulus semata, tetapi juga memiliki komitmen untuk menjaga kelestarian budaya dan moral bangsa. Jika industri pertambangan dan perhutanan harus mengedepankan kelestarian lingkungan hidup, maka industri hiburan dan televisi harus juga ditegaskan dibangun dengan mengedepankan kelestarian moral dan budaya serta tetap berkomitmen membangun karakter bangsa secara positif agar jangan sampai pemenang Indonesia Idol, ujung-ujungnya lagi-lagi berkarir di dunia sinetron.
..Kita Lihat Saja Besok
Jalanan telah basah dan lampu-lampu jalan masih bersinar temaram. Rok yang kupakai ini begitu mini. Begitu juga dengan stocking yang kugunakan dan sepatu hak tinggi ini seperti sedang berusaha membunuhku. Sudah dua bungkus rokok kuhabiskan. Satu malam yang sangat panjang, tapi aku masih punya waktu. Seorang laki-laki mengendarai mobil terlihat seperti baru keluar dari kehidupannya yang lain dan sedang pulang menemui istrinya. Dia melewatiku, melambat dan melihat namun kembali menancapkan gas mobilnya.
Aku telah belajar untuk membaca mereka seperti buku. Memang saat ini sudah 30 puluh menit dari jam sepuluh namun mereka biasanya pasti kembali. Tidak lama kemudian dari ujung jalan, sebuah sinar terpantul di sepanjang jalanan yang basah ini. Aku melihat untuk memastikan bahwa sinar itu bukan matahari pagi. Aku mengerlingkan mataku, tersenyum dan melambaikan tanganku. Dia berhenti, kelihatannya dia mengerti. Sebuah transaksi kecil harus kita lewati. Aku berkata kepadanya bahwa hatiku akan tersakiti jika dia seorang yang pelit dan tidak dermawan. Kemudian aku melangkah memasuki mobilnya.
Aku berjalan di jalanan ini untuk uang. Ini bisnis cinta. Sayang..! ayolah, jangan biarkan aku kesepian. Jangan biarkan aku sedih. Aku akan menjadi 5 menit terindah yang pernah kau rasakan.
Orang bilang pertama kali hal ini adalah suatu trik yang paling sulit. Tapi setelah itu semuanya berlangsung logis. Mereka punya duit, aku punya waktu. Menjadi cantik adalah satu-satunya kejahatan yang kumiliki. Jika Anda bertanya, masa depan apa yang aku cari, aku akan menjawab bahwa itu benar-benar terserah padaku. I don’t need forgiving, I’m just making living..!
Buat orang-orang yang sibuk memperhatikan siapa diriku, perlu kukatakan bahwa aku sadar semua ini tidak pernah kurencanakan. Jadi, jangan menghakimiku. Kau bisa saja menjadi seperti diriku dalam kehidupan lain atau dalam rangkaian situasi yang lain. Jangan pernah menghakimiku. Satu malam lagi. Aku hanya harus menggunakan kesempatanku. Bagaimana selanjutnya nanti, kita lihat saja besok…
..Dan akhirnya kita hanya melahirkan Fanatik-fanatik buta
Di waktu-waktu yang lalu atau bahkan mungkin saat ini sebahagian besar khutbah dan ceramah di mesjid atau dimanapun sering diwarnai dengan tema-tema yang membangkitkan sikap dan perilaku protektif umat terhadap agama lain. Ini adalah hal yang sangat baik untuk menumbuhkan kesadaran umat terhadap bahaya yang bisa mengancam aqidah. Tapi jika melihat kedalam, kita rupanya sudah lama lupa siapa diri kita sebenarnya.
Kelupaan ini bisa diibaratkan seperti kita yang mendirikan pagar kokoh yang sangat tinggi dan terkunci rapat di sekeliling rumah untuk menghindari gangguan yang bisa saja datang setiap saat mengancam keamanan seisi rumah. Namun kita lupa bahwa sebuah rumah yang baik bukan hanya karena pagar halamannya yang tinggi dan kokoh untuk memberikan keamanan dari luar tetapi juga sangat penting dan krusial bahwa rumah yang baik itu sangat tergantung dari bagaimana penghuninya mampu mengatur seisi rumah agar kesehatan, pendidikan dan tumbuh kembang bisa terjadi dengan baik. Rumah yang baik juga ditentukan oleh pengetahuan yang pasti dari sang penghuni tentang dimana pakaian disimpan, dimana piring, payung, obat dan makanan diletakkan.
Kita tahu dimana mengambilnya saat kita membutuhkan benda-benda tersebut. Kita bisa segera mengambil payung saat kita harus buru-buru pergi di hari hujan. Kita tahu dimana tempat obat-obatan saat tetangga dalam keadaan darurat dan kita merasa wajib menolongnya.
Kita merasa nyaman mengundang tamu dan tetangga sebab rumah, perabot dan semua isinya tersusun rapi, bersih dan indah. Kita nyaman karena semuanya membuat kita sehat. Untuk apa pagar tinggi dan kokoh apabila isi rumah berantakan dan kotor?
Untuk apa bersikap terlalu protektif kepada pemeluk agama lain sedangkan kita sendiri tidak mengenal agama yang dianut secara lebih baik?
Kita lupa membenahi diri dengan segala pengetahuan yang baik dan menyeluruh tentang Islam. Kita merasa bahwa cukuplah sudah dengan keislaman ini saja dan tidak perlu mendalami segala sesuatu yang terkandung di dalamnya. Dan jika ada yang akan menggangu keislaman ini, maka yang akan dilakukan adalah menghilangkan gangguan walaupun cara yang ditempuh terkadang tidak menggunakan hikmah islami yang baik. Dan akhirnya kita melahirkan fanatik-fanatik buta.
Belajar adalah proses mengatur seluruh informasi secara sistematis dalam diri kita sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan. Mengatur semua petunjuk dan nilai-nilai islam dalam diri adalah rangkaian kegiatan belajar sehingga mengarahkah penganut agama ini untuk mempelajari Islam sebaik-baiknya dan sesempurna mungkin. Semua ini akan menjadi sebuah benteng pertahanan yang kuat dalam diri. Dengan demikian umat akan bersikap dan berlaku secara ”agungnya islam” terhadap agama lain. Semua ini terwujud karena Muslim telah mampu menghadirkan Islam yang sebenarnya pada dirinya...
Lucu sekali jika seorang Muslim bersikap protektif secara berlebihan terhadap penganut agama lain namun pada saat yang sama kelemahan muslim sendiri semakin membesar akibat telah terbiasa mempelajari Islam secara tidak menyeluruh
Seribu Tahun Menuju Keabadian
Seribu tahun dan mungkin seribu tahun lagi atau ribuan juta pintu masih harus kujalani menuju keabadian. Aku mungkin saja telah hidup dalam seribu kehidupan sebelumnya dan seribu kali menapaki tangga-tangga langit yang tidak pernah berakhir menuju menara jiwa. Jika memang perlu seribu tahun lagi dan seribu pertikaian lagi, menara-menara itu bisa saja muncul pada lantai-lantai langit yang tidak terkira banyaknya dan aku tidak akan pernah tahu menara mana yang akan kutuju.
Aku bisa saja meneteskan jutaan air mata, menghembuskan trilyunan nafas dan mengucapkan jutaan nama. Namun hanya satu kebenaran yang kuhadapi. Aku telah menempuh jutaan jalan, merasakan jutaan rasa takut, mengeluhkan jutaan terik matahari dan mengalami jutaan ketidakpastian. Aku bisa saja telah membicarakan berjuta kebohongan, menyanyikan berjuta nyanyian, menuntut jutaan hak, membuat berjuta kesalahan pada keseimbangan waktu ini, tiga dekade lebih dan masih ribuan tahun lagi.
Namun jika dulunya pernah ada sebuah kebenaran, sebuah cahaya, sebuah pemikiran, sebuah sentuhan yang lembut dan agung dan yang kemudian mengikuti titik tunggal ini, sesuatu yang menyala, sebuah kenangan yang selalu menghantui tentang sebuah wajah…
Misteri-misteri itu membentang ribuan kali seperti hamparan galaksi di kepalaku. Aku bisa saja tidak terhitung, aku bisa saja innocent, aku bisa saja mengetahui banyak hal, dan aku bisa saja menjadi dungu. Atau aku bisa saja dulunya pernah bersama para raja dan menaklukkan banyak negeri atau memenangkan dunia ini dengan kartu dan membiarkannya tergelincir di tanganku.
Aku bisa saja menjadi meriam penghancur yang menghancurkan ribuan kali kehidupan manusia dan setelah itu terlahir kembali sebagai seorang anak yang beruntung untuk menghakimi kejahatan-kejahatan lainnya atau memakai jubah haji atau menjadi pencuri biasa.
Namun aku telah menjaga keyakinan tunggal ini dan satu yang kuyakini bahwa…Aku masih mencintaiMu, aku masih menginginkanMu dan aku masih membutuhkanMU
Seperti yang kukatakan tadi, ribuan kali misteri-misteri itu membentang seperti hamparan galaksi di kepalaku. Namun saat ini misteri-misteri itu mulai terus mengendap dan keabadian masih tidak terkatakan hingga…Engkau mencintaiku, Tuhan!
Seperti yang kukatakan tadi, ribuan kali misteri-misteri itu membentang seperti hamparan galaksi di kepalaku. Namun saat ini misteri-misteri itu mulai terus mengendap dan keabadian masih tidak terkatakan hingga…Engkau mencintaiku, Tuhan!
(Dedicated to my Long journey of life in one of its points of route at 25th September 2010)
Subscribe to:
Comments (Atom)