Total Pageviews

Thursday, January 27, 2011

Visit Banda Aceh Year 2011...Salah Objek Promosi

Ada beberapa komentar yang keluar dari mulut teman-teman kerja saya yang berasal dari luar negeri seperti Prancis, Luxemburg dan juga Austria ketika melihat kota Banda Aceh dan jalan-jalan ke hampir semua sudut kota ini.
“Wow…What a beautiful country..!”
“Banda Aceh has nice landscapes.”
“You should bring me to those hills on my next visits”
Agak sedikit tidak percaya dan surprised saat mendengar mereka bisa berkata seperti itu terutama ketika melihat bahasa tubuh mereka yang menjelaskan ekspresi takjub yang bukan dibuat-buat. Sebagai salah satu warga kota Banda Aceh, Saya berpikir sepertinya ekspresi mereka terlalu berlebihan. Namun ketika saya coba pahami, kekaguman mereka itu adalah sebuah hal yang wajar sebab semua yang mereka lihat di kota ini bukanlah hal yang biasa mereka dapatkan di negara-negara Eropa dimana mereka tinggal. Terlebih ketika saya berpikir bahwa kota Banda Aceh ini adalah satu kota di Indonesia dan berada dalam wilayah Asia Tenggara. Asia Tenggara memiliki keeksotisan tersendiri di bandingkan wilayah-wilayah Eropa. Orang Eropa suka mengunjungi Asia dan begitu juga sebaliknya. Sama saja seperti saya yang akan takjub jika melihat landscape-landscape di Negara mereka yang sangat berbeda dan mungkin saja saya bisa lebih takjub lagi dari mereka. Jadi pada awalnya, saya tidak begitu antusias mengiyakannya. Tetapi setelah saya sadar bahwa mereka sudah bertahun-tahun bekerja dan menetap di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand, Kamboja, Vietnam dan Laos, saya mulai berpikir bahwa apa yang mereka katakan itu bukanlah sesuatu yang mengada-ngada sebab bagaimana mungkin bagi mereka yang telah lama menikmati negara-negara Asia Tenggara lainnya masih bisa merasa kagum dan kegirangan ketika melihat kota Banda Aceh. Ini adalah kekaguman yang luar biasa tentunya.
Banda Aceh memang memiliki landscape yang indah. Jika kita menebar pandangan kearah Barat, Selatan dan Timur, kota kecil ini di kelilingi oleh barisan pegunungan dan perbukitan sementara di bagian utaranya terdapat pantai-pantai yang cukup indah. Beberapa sungai besar juga membelah kota ini. Tidak heran mereka bisa berkata seperti itu. What a beautiful landscape. Pantai, gunung dan sungai menjadi satu di kota ini. Jika saya pikir, kota kecil ini sebenarnya memiliki suasana yang romantis.
Tapi sayang, pemerintah kota masih kurang kreatif memanfaatkan keindahan landscape dan keromatisan kota ini. Objek dan fasilitas wisata yang telah dibangun sepertinya belum mampu mengeksplorasi keindahan dan keromantisannya. Fasilitas dan objek wisata juga telihat biasa-biasa saja dan kurang menarik bahkan minim pemeliharaan. Masih terlihat bahwa sepertinya kota ini masih banyak membutuhkan sentuhan tangan arsitek-arsitek muda professional untuk merancang dan membangun fasilitas-fasilitas dan objek pariwisatanya.
Pada tahun 2011 ini pemerintah kota telah memulai kampanye promosi wisata Visit Banda Aceh Year 2011 dimana aspek kebudayaan Islami dan dan Tsunami dijadikan sebagai daya tarik andalan. Beberapa tempat dijadikan situs wisata andalan seperti Mesjid Raya Baiturrahman yang memang sangat luar biasa keindahan dan sejarahnya, Museum Tsunami (yang saya pikir tidak ada apa-apanya selain memamerkan foto-foto Tsunami dan arsitektur), Gunongan (taman untuk Putri Pahang di Jaman Iskandar Muda dulunya) dan beberapa makam-makam bersejarah. Terdapat juga beberapa sisa dari bencana Tsunami yang diandalkan sebagai objek wisata seperti Kapal PLTD apung yang terdampar sejauh 3-5 kilometer di wilayah kota dan sebuah kapal nelayan besar yang masih berada di atas sebuah rumah.
Saya kira pilihan-pilihan tersebut menarik, tetapi tidak fantastis dan fenomenal untuk menarik banyak wisatawan datang ke kota Banda Aceh. Saya pesimis bahwa pilihan-pilihan wisata andalan yang dipromosikan tersebut bisa mengundang banyak pelancong untuk mengunjungi Banda Aceh. Terutama wisatawan mancanegara. Soalnya situs-situs ini hanya menjual daya tarik yang aksidental bukan sebagai sesuatu yang ingin dikunjungi. Seharusnya situs-situs ini harus lebih dilihat sebagai situs pelengkap dan bukanlah andalan.
Potensi utama yang menjadi daya tarik yang sebenarnya adalah keindahan landscape kota ini yang memang luar biasa. Bagi saya, jika pemerintah kota ingin mempromosikan kota Banda Aceh sebagai kota tujuan wisata, objek dan fasilitas-fasilitas wisata harus dikembangkan secara kreatif agar wisatawan bisa melihat keindahan landscape dan merasakan keromantisan kota ini. Baru kemudian situs-situs budaya islami dan Tsunami dijadikan sebagai pelengkap wisata yang akan menambah daya tarik. Pemerintah kota seharusnya jangan memfokuskan pengembangan wisata Tsunami saja sebagai sesuatu yang dipromosikan tetapi jauh lebih menarik apabila memanfaatkan ketenaran Aceh di mancanegara karena Tsunami untuk mempromosikan keindahan landscapenya.

No comments: