Total Pageviews

Thursday, January 27, 2011

Lupa Mimpi Apa

Apa yang paling mengesalkan saya dari sebuah mimpi? Jawabannya adalah ketika bangun tidur, saya tidak bisa mengingat lagi mimpi apa tadi malam. Padahal saya tahu bahwa saya telah bermimpi. Seakan-akan semua objek visual dan audio serta bagaimana cerita dalam mimpi tersebut terhapus tiba-tiba saja dari pikiran saat saya terbangun. Yang tinggal hanyalah perasaan dan kandungan emosional mimpi tersebut yang membuat saya sadar bahwa saya telah mengalami mimpi tadi malam.
Saat ini (lagi-lagi) saya kesal karena ketika saya terbangun tadi pagi, saya lupa mimpi apa. Padahal rasa-rasanya mimpinya menyenangkan sekali. Saya kesal ketika saya tidak tahu harus berbicara apa ketika saya ingin mengatakan tentang mimpi saya kepada teman-teman saya. Sampai saat saya menulis tulisan inipun saya masih penasaran mimpi apa saya tadi malam. Jadi saya lagi kesal saat ini.
Biasanya kalau lagi kesal, orang suka berbuat yang aneh-aneh. Memarahi orang lain, ngambek, mengutuki diri sendiri dan bahkan bisa saja tidak mau peduli lagi dengan orang lain. Tidak semua orang seperti itu barangkali. Ada juga yang jika lagi kesal lebih memilih diam tidak mau berbicara dan melakukan apapun. Tapi saya tidak kesal seperti itu kok. Saya cuma uring-uringan dengan diri sendiri kenapa saya tidak bisa mengingat sedikitpun mimpi apa saya tadi malam.
Apa yang saya alami ini sebenarnya sama persis dengan apa yang dialami Bangsa kita. Bangsa Indonesia. Sepertinya kita lagi kesal dengan kita yang merasa telah mengalami mimpi tetapi lupa mimpi apa itu. Kita lagi uring-uringan. Kekesalan kita terlihat dari kita yang membuat kondisi negeri ini menjadi negeri yang di dalamnya masih banyak orang miskin, negeri yang pendidikannya payah, negeri yang harga pangannya melambung, harga minyaknya kacau dan yang listriknya sering byar pet.
Kita lagi kesal dan uring-uringan sehingga kita jadi politikus-politikus yang tidak peduli lagi dengan rakyat. Kita korup, kita suka bohong dan terkadang kita ngambek dengan cara menyerang pendapat orang lain dengan cara yang jauh dari santun. Kita berunjuk rasa pakai lempar-lemparan dan kita tidak menganggap belum berunjuk rasa jika belum pakai ricuh-ricuhan. Kita lagi kesal sekarang karena kita lupa mimpi apa tadi malam sehingga kita membiarkan orang-orang di ujung Indonesia seperti Papua, Aceh dan dan di daerah-daerah perbatasan tidak maju-maju.
Kita lagi uring-uringan karena kita lupa mimpi apa sehingga kita bersikap seperti bangsa yang tanpa tuhan dan agama. Kita suka menghukum pencuri ayam dengan hukuman yang berat tapi kok pencuri uang rakyat atau koruptor hukumannya tidak sebanding dengan kejahatannya.
Kita lagi kesal sehingga kekesalan kita sering kita lampiaskan dengan menjelek-jelekkan ras dan suku lain. Kita tidak mau membuat semua orang itu sama dalam hukum. Kita lagi uring-uringan saat ini sehingga saat lagi musyawarah, kita suka memakai cara-cara yang jauh dari kekeluargaan (Coba lihat bagaimana anggota-anggota DPR kita yang terhormat jika lagi rapat).
Kita juga sering menempatkan kepentingan pribadi dan golongan di atas persatuan, kesatuan dan kepentingan serta keselamatan berbangsa dan bernegara sebab kita sekarang ini memang lagi kesal. Kita lupa mimpi apa sehingga kita kesal dan perilaku kita sudah tidak luhur lagi.
Kita sebagai Bangsa Indonesia lagi kesal dan uring-uringan saat ini sebab kita telah lupa bahwa dulunya Bangsa Indonesia telah bermimpi untuk menjadi bangsa yang berKetuhanan Yang Maha Esa, Bangsa yang Berkemanusiaan Yang Adil dan Beradab, bangsa yang bersatu dalam Indonesia, bangsa yang kerakyatannya dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan di dalam permusyawaratan/perwakilan dan bangsa yang keadilan sosialnya ditujukan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali.
Kita kesal dan uring-uringan saat ini karena kita lupa bahwa dulunya kita pernah bermimpi tentangPancasila. Mimpi tentang sebuah Bangsa Indonesia yang besar dan tetap berketuhanan, berkemanusiaan, bersatu, bermusyawarah dan adil bagi seluruh rakyatnya.
Bangsa kita yang terdiri dari Negaranya (pelaku birokrasi dan politik) dan Masyarakatnya (rakyat dan masyarakat ekonominya) seharusnya kembali mengingat mimpi ini. Negara yang Pancasialis (begitu kira-kira ungkapannya - jika tidak salah). Kita seharusnya mengingat dan mewujudkan kembali mimpi ini agar kita tidak terlihat sebagai Bangsa yang baru bangun dari tidur namun telah kehilangan mimpi besarnya sebagaimana yang telah dimimpikan oleh para Pendiri Bangsa ini dahulunya
Saat ini saya sudah tidak kesal dan uring-uringan lagi sebab saya sudah tahu mimpi apa saya tadi malam. Saya bermimpi tentang saya yang menulis di Kompasiana tentang Bangsa Indonesia yang lupa mimpi Pancasilanya. Sekarang saya senang sebab ini bukan hanya mimpi.
Semoga bermanfaat.

No comments: