Total Pageviews

Thursday, January 27, 2011

Metro TV...Seandainya Surya Paloh jadi Presiden

Tulisan ini adalah reaksi dan opini publik yang telah berkembang tentang Metro TV, Nasional Demokrat dan Surya Paloh. Editorial-editorial Media Group biasanya begitu brilian dan peka dalam melihat dan mengekspos kekhawatiran dan kritik secara mendalam tentang ketimpangan-ketimpangan yang dihadapi Bangsa saat ini tetapi tidak pernah menyinggung sedikitpun kekhawatiran yang akan saya ungkapkan dalam tulisan ini.
Stasiun Televisi Berita Yang Mencerdaskan Bangsa
Surya Paloh terkenal sebagai pengusaha muda Indonesia. Beliau lahir di Aceh dan besar di Sumatera Utara. Kegiatan-kegiatan politik yang dilakukannya telah membawa Surya Paloh ke Jakarta dan menjadi anggota MPR selama dua periode. Saat ini Surya Paloh lebih dikenal sebagai pemimpin Media Group, yakni sebuah group bisnis media yang memiliki harian Media Indonesia dan anak perusahaan lain bernama PT Media Televisi Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Metro TV.
Metro TV adalah sebuah stasiun televisi berita pertama di Indonesia dan yang mengudara selama 24 jam sejak tahun 2001. Stasiun ini tumbuh untuk mencerdaskan bangsa dan mengawal proses demokrasi di Indonesia. Program-program Metro TV lebih mengedepankan tayangan-tayangan yang membuat masyarakat mampu menilai situasi dan kondisi bangsa sehingga publik akan lebih memiliki wawasan dan keberanian untuk mengontrol dan menyuarakan kesenjangan dan kekurangan kekurangan pada pelaku sistem birokrasi, politik, ekonomi dan bahkan budaya masyarakat itu sendiri.
Hingga beberapa bulan yang lalu saya termasuk salah seorang yang sangat mengapresiasi peran Metro TV di Indonesia. Namun sejak penyiar-penyiar di program-program berita dan dialognya sering mengambil kesimpulan yang terburu-buru tentang suatu kasus, apresiasi saya telah menjadi dangkal sebab Metro TV sudah saya anggap sebagai media komunikasi politik yang sering memfasilitasi usaha-usaha untuk menjatuhkan image pemerintah atau lawan-lawan politik tertentu di mata publik. Saya mulai berpikir bahwa stasiun televisi ini memang telah ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Terlebih lagi ketika iklan Nasional Demokrat sudah semakin sering penayangannya. Saya selalu mengganti channel apabila iklan ini ditayangkan. Soalnya saya bosan juga dengan iklan ini sebab periode penayangannya sudah terlalu lama.
Metro TV dan Kepentingan Pemiliknya
Sebagaimana yang kita tahu, tidak sedikit isu-isu kecil dan yang tidak krusial terkesan dibesar-besarkan oleh Metro TV hanya karena ingin menjatuhkan kredibilitas beberapa pelaku pemerintahan atau politik tertentu. Isu-isu tersebut sengaja dikembangkan agar hal ini bisa mendukung misi jangka panjang dari kepentingan-kepentingan yang telah menumpangi stasiun televisi ini. Saya tidak akan menuliskan contoh-contoh isu kecil tersebut karena Anda pun bisa menilai sendiri sebagai pemirsa Metro TV. Terlebih lagi ketika hal ini sudah menjadi perbincangan di ranah publik. Jelas sekali terlihat bahwa Metro TV lebih banyak menayangkan kritik terhadap pemerintah dan pelaku-pelaku politik tertentu daripada berita keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai.
Kepentingan tertentu yang telah menumpangi Metro TV yang saya maksud adalah kepentingan Surya Paloh sebagai Bos media ini untuk menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019. Anda mungkin sama sekali tidak terkejut dengan hal ini karena pada dasarnya tujuan akhir para politisi memang sudah diketahui publik, yakni kekuasaan.
Pers dan Presiden
Surya Paloh, sebagaimana yang sudah kita ketahui, adalah seorang pengusaha dan juga politisi. Menjadi presiden di Indonesia bukanlah hal yang tidak bisa dicapai oleh Surya Paloh. Catatan-catatan keberhasilan dan ke-ngotot-annya dalam menguasai bisnis media bisa menjadi referensi untuk hal ini.
Saat memulai bisnis pers, Surya Paloh bukanlah seseorang yang memiliki latar belakang di bidang jurnalisme. Dunia pers adalah hal yang baru bagi Surya Paloh. Saat itu bisnis pers sudah terlebih dulu dikuasai oleh banyak pemain. Namun walaupun pasar pers telah ramai terisi dengan persaingan, Surya Paloh tetap ngotot dan bahkan ia berani mempertaruhkan modal dalam jumlah yang relatif besar, dengan melakukan terobosan-terobosan baru yang tidak biasa dilakukan oleh pengusaha-pengusaha media pendahulunya. Ia berani menghadapi risiko rugi atau bangkrut dan Ia sangat kreatif dan inovatif. Dan, Surya paloh berhasil.
Sebagai bos media pers terbesar di Indonesia, Surya Paloh memiliki modal dan fasilitas untuk meraih posisi RI-1. Pers punya kekuatan yang kuat dan di negara-negara barat pers dikenal sebagai lembaga keempat setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif. Sering sekali pers mempublikasikan beberapa tokoh dalam politik, tokoh dari berbagai disiplin ilmu atau masyarakat sehingga mereka menjadi besar dan berpengaruh. Seseorang tidaklah akan memiliki nama besar apabila pers memboikotnya. Dengan demikian, bisnis pers memanglah bergengsi karena pers akan memberi kebanggaan, kekuatan dan kekuasaan. Surya Paloh sangat menyadari hal ini dan tentunya dia akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam memuluskan perjalanannya menuju RI-1.
Untuk menuju posisi RI-1, sebagai langkah awal, Surya Paloh mencoba menjadi Ketua Umum partai Golkar. Sebab ketika terpilih nantinya, Surya Paloh akan lebih mudah melakukan manuver politik dan akan selalu menjadi objek pemberitaan di medianya, terutama Metro TV. Saya yakin bahwa Metro TV akan lebih menggembar-gemborkan citra Surya Paloh apabila dia berhasil terpilih sebagai ketua Umum Golkar. Namun sayangnya, Aburizal Bakrie terpilih sebagai Ketua Umum yang baru. Hal ini membuat Surya Paloh harus mencari cara lain agar media persnya memiliki alasan untuk sering memberitakan citranya kepada publik.
Nasional Demokrat di Metro TV
Mendirikan organisasi masyarakat Nasional Demokrat adalah cara brilian yang digunakan oleh Surya Paloh untuk menjadikan dirinya tetap sebagai objek berita sebagai upaya untuk mencitrakan dirinya di depan publik. Terlebih ketika wacana yang dikembangkan oleh Nasional Demokrat adalah Restorasi Indonesia, sebuah wacana ampuh untuk mengumpulkan dukungan publik pada saat publik sedang berpikir bahwa Indonesia harus dibenahi.
Beberapa program yang memang menjadi harapan publik dalam bidang politik, ekonomi dan budaya diwacanakan sehingga kehadiran Nasional Demokrat akan dianggap sebagai sebuah solusi ditengah keputusasaan dan kebuntuan bangsa. Metro TV akan sangat berperan sebagai pembanding dalam mengkampanyekan anggapan ini kepada publik dan secara cerdik, pada saat yang sama Metro TV juga secara terus menerus menggembar-gemborkan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi saat ini dalam pemerintahan dan politik sehingga publik akan bisa melihat dengan jelas wacana restorasi dari Nasional Demokrat adalah jalan keluar yang memang harus ditempuh oleh bangsa Indonesia.
Saya tidak heran jika Metro TV lebih sering mengedepankan kritikan terhadap pemerintah dan disaat yang sama iklan Nasional Demokrat lebih sering ditayangkan. Termasuk pidato-pidato Surya paloh yang ditayangkan lebih lama dari pidato Presiden atau politisi-politisi penting lainnya. Periode penayangan iklan Nasional Demokrat ini juga bisa jadi tanpa batas hingga tujuan Surya Paloh tercapai. Surya Paloh akan menjadikan Nasional Demokrat ini sebagai sarana untuk mengarahkan publik agar dia bisa mencalonkan dirinya sebagai salah satu calon presiden periode 2014-2019. Tentunya terlebih dahulu, Surya Paloh akan menjadikan Nasional Demokrat ini sebagai salah satu partai politik yang akan mencoba memenangkan pemilu tahun 2014.
Surya Paloh Sebagai Calon Presiden
Saya kira Surya Paloh punya kemungkinan memenangkan Nasional Demokrat atau setidaknya menjadikan Nasional Demokrat ini sebagai sebuah partai baru yang memiliki suara dalam urutan 3-5 besar. Sebab, Surya Paloh punya Metro TV dan media lainnya sebagai alat untuk mencitrakan partai barunya ini. Berita-berita yang baik tentang Nasional Demokrat akan mendapatkan porsi yang jauh lebih besar daripada berita tentang partai-partai yang menjadi lawannya. Terlebih lagi ketika Surya Paloh tidak harus membayar untuk iklan kampanye dirinya sebagai presiden dan melalui Metro TV serta media-media lain yang dimilikinya, Surya Paloh juga akan mudah mengatur pemberitaan yang baik tentang dirinya dan menyerang calon presiden lain sebagai lawan. Sekali lagi Surya Paloh memahami betul bahwa pers sangat memiliki kekuatan yang ajaib untuk bisa membesarkan dirinya dan atau partai politiknya.
Sebagai salah satu penduduk negeri ini yang mencoba untuk berpikir demokratis, saya menganggap apa yang dilakukan oleh Surya Paloh ini wajar-wajar saja. Selain karena dia memiliki uang, media dan kemampuan berpolitik, Surya Paloh juga memiliki hak-hak politik sebagaimana warga negara Indonesia lainnya. Saya berharap bahwa tujuan beliau memang benar-benar tulus untuk merestorasi bangsa ini dan jika memang jalan seperti ini yang harus ditempuhnya, saya akan memberikan apresiasi tinggi sepanjang apa yang dicitrakannya melalui cara ini akan benar-benar sesuai dengan kenyataan dalam merestorasi Indonesia (apa bila rakyat memang memilihnya sebagai presiden).
Namun yang menjadi kekhawatiran saya adalah jika tujuan Surya Paloh sebagai presiden nantinya tidak benar-benar tulus untuk merestorasi Indonesia. Apakah Metro TV akan menjadi seperti TVRI dimasa Orde Baru? Melihat apa yang terjadi pada Metro TV saat ini, sangat mungkin kekhawatiran saya tersebut terjadi nantinya. Saya berpikir bahwa jika Surya Paloh terpilih sebagai presiden, Metro TV akan lebih digunakan sebagai media dalam membangun citranya. Stasiun televisi ini akan sedikit sekali menayangkan berita-berita tentang kegagalan Surya Paloh dalam merestorasi Indonesia (apabila restorasi ini tidak terlaksana). Justru keberhasilan-keberhasilan yang tidak signifikan malah akan diperbesar untuk mendongkrak citra pemerintah. Dan yang sudah pasti, Metro TV akan lebih sering lagi mengekspos kekurangan pihak-pihak yang menjadi oposisi.
Secara umum ini akan membahayakan bangsa. Sebab rakyat akan bingung. Di satu sisi media memberitakan keberhasilan pemerintah dan di sisi yang lain (jika memang terjadi) rakyat merasakan kenyataan yang tidak sesuai dengan yang sering diberitakan. Seperti yang sering terjadi sekarang, rakyat tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dalam berbagai kasus karena kejahatan seseorang terkadang tergantung dari bagaimana pers memberitakannya.
Apa yang didengungkan oleh Metro TV tentang citranya saat ini sebagai televisi pengawal reformasi dan demokrasi akan sangat berkesan berkonflik dengan kepentingan pemiliknya ketika Surya Paloh terpilih nantinya sebagai presiden. Pemberitaannya akan memiliki nilai bias dan justru akan mengaburkan tujuan reformasi dan makna demokrasi itu sendiri. Jika Metro TV dan media lainnya sebagai media-media terbesar di Indonesia sudah menjadi alat pemerintah untuk mencitrakan pemerintahannya, apalagi yang bisa dipercaya oleh publik sebagai sarana untuk mengawasi dan mengontrol pemerintah? Mungkin publik akan kembali ke era Orde Baru yang selalu menikmati suguhan statistic-statistik palsu tentang keberhasilan pemerintah.
Sebagai warga negara, saya mencoba memberikan sudut pandang ini kepada Media Group, khususnya Metro TV agar kembali menjaga netrealitasnya sebagai media yang menggunakan ruang publik di Negara ini.
Saya juga mengusulkan agar Surya Paloh atau siapapun pemilik media lainnya untuk melepaskan saham dan statusnya sebagai pemilik atau pengelola media terlebih dahulu sebelum mencalonkan diri sebagai presiden.
Semua ini hanyalah untuk tetap menjaga netralitas pers sebagai salah satu kekuatan terbesar dalam mendewasakan demokrasi di tanah air ini.

No comments: