Total Pageviews

Monday, June 27, 2011

Melihat Indonesia Tuhanpun Berseru: OMG!!

Kemarin di desa tempat saya tinggal, Pertamina menyalurkan minyak tanah bersubsidi untuk rakyat. Ribuan rakyat datang untuk mengantri membeli satu jeriken minyak tanah. Saya tidak tahu berapa jumlah liter maksimal yang bisa dibeli oleh seseorang. Namun yang membuat saya tertarik adalah fenomena mengantri seperti ini yang ternyata masih juga ada seperti cerita-cerita orang tua saya dan penjelasan-penjelasan pada buku sejarah tentang gambaran situasi kehidupan di Indonesia puluhan tahun yang lalu. Rakyat Indonesia masih saja bersedia mengantri demi kebutuhan pokok setelah hampir 70 tahun merdeka.

Di televisi atau bahkan secara langsung, kita juga sering melihat rakyat mengantri demi mendapatkan pembagian zakat. Dan yang lebih mengenaskan lagi adalah adanya kebijakan Bantuan Langsung Tunai yang mengindikasikan bahwa masih banyak rakyat miskin di Indonesia setelah hampir 70 tahun merdeka.
Jika dibuat statistik, bisa saja Indonesia termasuk salah satu negara yang paling banyak mendistribusikan penduduknya di negara-negara lain. Namun bukan sebagai tenaga professional yang ahli atau pengusaha-pengusaha, namun sebagai tenaga pembantu yang hanya menggunakan tenaga, kesopanan dan ketaatan terhadap sang tuan. Banyak diantara mereka yang professional namun lebih banyak lagi yang bahkan tidak mengerti apapun dan berujung kepada penyiksaan dan penganiayaan. Ini disebabkan karena sangat minimnya lapangan pekerjaan di Indonesia yang mampu menyerap mereka sebagai tenaga kerja dan mungkin juga karena lebih mudah mendapatkan uang yang banyak di negeri orang daripada negeri sendiri dan mungkin juga karena mereka DIMANFAATKAN SECARA HALUS oleh penyelenggara negara ini untuk memasukkan devisa.
Ketika kita tidak setuju dengan kebijakan sesuatu, akhir-akhir ini kita lebih sering membuat kerusuhan. Konon yang namanya mahasiswa masih tetap sama seperti mahasiswa-mahasiswa jamannya Cosmas Batubara. Mahasiswa identik dengan pejuang bagi rakyat yang menyuarakan hati rakyat. Sampai saat ini mahasiswa masih menjadi pilar terdepan. Mereka melakukan demo dan turun ke jalan-jalan. Agenda utama adalah “membakar ban”. Dan selanjutnya sambil tertawa mendorong aparat keamanan dan berujung kepada perusakan aset Negara. Ini bukti bahwa saat ini kita masih saja berada dalam era perjuangan rakyat yang dicirikan dengan gaya mahasiswanya berunjuk rasa.
Namun sebagai mahasiswa yang identik dengan intelektualitas, nilai-nilai pendidikan, ilmu pengetahuan dan metoda-metoda ilmiah, tidak seharusnya mahasiwa sekarang berunjuk rasa dengan cara seperti itu. Seharusnya mereka menggunakan ilmu mereka, pendidikan mereka dan cara-cara ilmiah mereka dalam melakukan unjuk rasa. Bukan cara-cara yang seorang petani buta huruf pun bisa melakukannya.
Baru saja di www.kompas.com kita diberitakan bahwa aparat TNI dan Polri masih saja tidak professional. Baca di sini. Mereka tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu. Mereka tidak pernah belajar dari pemberontakan-pemberontakan di daerah-daerah, dari DI-TII hingga konflik di Aceh. Sekali lagi jika ada yang memberontak, kita hanya menyalahkan dan memberikan penilaian yang negatif terhadap kaum pemberontak, bahkan terhadap suku pemberontak itu sendiri. Namun kita tidak pernah sedikitpun untuk berkontemplasi untuk menyajikan dalam pikiran mengapa mereka memberontak. Kita tidak pernah menyediakan tempat yang terhormat tentang akar permasalahan yang memberontak hingga akhirnya kita menegakkan dan mempertahankan NKRI ini tidak dengan cara-cara yang bermartabat dan manusiawi. Bangsa ini seperti mempertahankan kesatuan negaranya melalui kolonialisme dan jauh dari keadilan sosial.
Daerah-daerah yang jauh dari ibukota seperti Papua dan Aceh, terlihat jauh dibelakang dalam pembangunan. Papua juga seperti terlupakan. Tidak banyak orang-orang pintar dari Papua yang bermain di ibukota. Saya tidak mengerti apakah situasi ini seperti dibiarkan. Alangkah indahnya dan beragamnya negara ini jika orang-orang Papua dan bangsa-bangsa dari belahan provinsi lainnya menghiasi permainan catur politik, ekonomi, dan segala sendi pembangunan negara di NKRI ini. Bukankah semuanya memiliki hak untuk maju? Dan hak untuk dimajukan dan diberdayakan? Namun kita sering terjebak ke dalam ide bahwa jika ingin maju, mulailah dari diri sendiri atau jika sebuah daerah ingin maju maka daerah tersebut harus memulainya. Tetapi yang jauh lebih penting adalah, kepedulian pemerintah pusat yang tulus bagaimana bisa memberdayakan daerah-daerah tertinggal agar dalam waktu yang tidak lama mereka bisa mengambil porsi yang signifikan dalam peran membangun negara dalam wadah NKRI.
Masihkan saat ini ketika kita hampir 7 dekade merdeka tetap saja kita tidak mempunyai mimpi bahwa suatu saat Presiden RI berasal dari Papua, Aceh, NTT atau lainnya? Saya rasa mimpi itu hanya milik segelintir orang. Bahkan orang-orang dari sanapun, belum pernah bermimpi seperti itu. Ketika daerah-daerah ingin maju sendiri, mereka meminta otonomi yang pada akhirnya justru membuat mereka lebih bobrok dari situasi sebelumnya. Namun masalahnya bukan pada apa yang mereka lakukan terhadap status otonom tersebut, tetapi jauh daripada itu adalah (sekali lagi) bagaimana mereka bisa sampai meminta ke-otonomian tersebut dan mengapa mereka ingin memekarkan diri. Saya rasa sebabnya adalah karena pemerintah tidak pernah mau bersungguh-sungguh dan tidak memiliki inisiatif yang tulus dalam pembangunan merata yang berkeadilan sosial.
Jika kita membicarakan pemerintah dan moral serta itikad baik dalam membangun negara ini, saya dan juga anda akan memohon ampunan untuk apa yang tidak sanggup kita ungkapkan atas banyaknya dosa dan ketidaktulusan pemerintah. Negara kita adalah negara pembohong, pendusta dan penipu. Kita korup. Dari rakyat kecil hingga pemerintah. Sebagai rakyat, kita sering mengeluhkan hal ini. Namun di sisi lain ketika kita sebagai rakyat, pada situasi tertentu, akan tidak segan-segan untuk menyuap dan menyogok orang lain agar anak kita bisa lulus jadi polisi, bekerja di kejaksaan, pegawai negeri dan bahkan yang sedihnya, kita mendukung anak-anak kita untuk mencontek demi lulus sekolah dasar. Jika saya bisa dan boleh berkata seperti ini, maka saya akan meneriakkan: MELIHAT INDONESIA, TUHANPUN AKAN BERSERU “ OMG!!!”
Saya dan begitu juga kita semua, ingin sekali bisa bangga terhadap Republik ini. Namun jangankan membuat bangsa ini besar dan disegani diseluruh penjuru dunia, terhadap negara tetangga sendiri kita jauh tertinggal. Sangat jauh malah. Sering kita marah ketika negara-negara tetangga dan lainnya menginjak-injak harga diri bangsa ini. Namun kita tidak pernah menyadari bahwa yang sebenarnya menginjak-injak harga diri bangsa ini adalah kita sendiri dan kita yang membuat mereka bisa melakukannya.
Ketika hampir tujuh dekade kemerdekaan Indonesia, apa yang masih kita banggakan sebagai bangsa Indonesia? Masihkah rasa nasionalisme yang besar ini kita gunakan dengan cara-cara yang tidak seharusnya lagi kita pakai di zaman global ini? Masihkan suara yang peduli terhadap rakyat hanya digunakan untuk mencapai puncak kekuasaan saja? Masihkah kita membiarkan diri kita tertinggal dan menjadi bangsa yang primitif? Masihkan kita menginginkan budaya kita hanya ada pada pentas-pentas kesenian dan wisata saja tanpa merasuk kuat dalam pribadi bangsa ini?
Semoga kita mampu duduk secara bersama untuk melenyapkan semua ketidakadilan, moral yang bejat dan korup dalam setiap sendi pemerintahan kita. Mari kita berdoa agar kita sebagai rakyat mampu bekerja memajukan bangsa ini dan bisa menggantikan semua penyelenggara negara yang bejat, munafik dan tidak peduli terhadap kemajuan bangsa ini. Saya yakin, masih terlalu banyak orang-orang yang tulus di Negara ini.
Demi nama Tuhan, Majulah Indonesiaku..!


Thursday, January 27, 2011

Metro TV...Seandainya Surya Paloh jadi Presiden

Tulisan ini adalah reaksi dan opini publik yang telah berkembang tentang Metro TV, Nasional Demokrat dan Surya Paloh. Editorial-editorial Media Group biasanya begitu brilian dan peka dalam melihat dan mengekspos kekhawatiran dan kritik secara mendalam tentang ketimpangan-ketimpangan yang dihadapi Bangsa saat ini tetapi tidak pernah menyinggung sedikitpun kekhawatiran yang akan saya ungkapkan dalam tulisan ini.
Stasiun Televisi Berita Yang Mencerdaskan Bangsa
Surya Paloh terkenal sebagai pengusaha muda Indonesia. Beliau lahir di Aceh dan besar di Sumatera Utara. Kegiatan-kegiatan politik yang dilakukannya telah membawa Surya Paloh ke Jakarta dan menjadi anggota MPR selama dua periode. Saat ini Surya Paloh lebih dikenal sebagai pemimpin Media Group, yakni sebuah group bisnis media yang memiliki harian Media Indonesia dan anak perusahaan lain bernama PT Media Televisi Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Metro TV.
Metro TV adalah sebuah stasiun televisi berita pertama di Indonesia dan yang mengudara selama 24 jam sejak tahun 2001. Stasiun ini tumbuh untuk mencerdaskan bangsa dan mengawal proses demokrasi di Indonesia. Program-program Metro TV lebih mengedepankan tayangan-tayangan yang membuat masyarakat mampu menilai situasi dan kondisi bangsa sehingga publik akan lebih memiliki wawasan dan keberanian untuk mengontrol dan menyuarakan kesenjangan dan kekurangan kekurangan pada pelaku sistem birokrasi, politik, ekonomi dan bahkan budaya masyarakat itu sendiri.
Hingga beberapa bulan yang lalu saya termasuk salah seorang yang sangat mengapresiasi peran Metro TV di Indonesia. Namun sejak penyiar-penyiar di program-program berita dan dialognya sering mengambil kesimpulan yang terburu-buru tentang suatu kasus, apresiasi saya telah menjadi dangkal sebab Metro TV sudah saya anggap sebagai media komunikasi politik yang sering memfasilitasi usaha-usaha untuk menjatuhkan image pemerintah atau lawan-lawan politik tertentu di mata publik. Saya mulai berpikir bahwa stasiun televisi ini memang telah ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Terlebih lagi ketika iklan Nasional Demokrat sudah semakin sering penayangannya. Saya selalu mengganti channel apabila iklan ini ditayangkan. Soalnya saya bosan juga dengan iklan ini sebab periode penayangannya sudah terlalu lama.
Metro TV dan Kepentingan Pemiliknya
Sebagaimana yang kita tahu, tidak sedikit isu-isu kecil dan yang tidak krusial terkesan dibesar-besarkan oleh Metro TV hanya karena ingin menjatuhkan kredibilitas beberapa pelaku pemerintahan atau politik tertentu. Isu-isu tersebut sengaja dikembangkan agar hal ini bisa mendukung misi jangka panjang dari kepentingan-kepentingan yang telah menumpangi stasiun televisi ini. Saya tidak akan menuliskan contoh-contoh isu kecil tersebut karena Anda pun bisa menilai sendiri sebagai pemirsa Metro TV. Terlebih lagi ketika hal ini sudah menjadi perbincangan di ranah publik. Jelas sekali terlihat bahwa Metro TV lebih banyak menayangkan kritik terhadap pemerintah dan pelaku-pelaku politik tertentu daripada berita keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai.
Kepentingan tertentu yang telah menumpangi Metro TV yang saya maksud adalah kepentingan Surya Paloh sebagai Bos media ini untuk menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019. Anda mungkin sama sekali tidak terkejut dengan hal ini karena pada dasarnya tujuan akhir para politisi memang sudah diketahui publik, yakni kekuasaan.
Pers dan Presiden
Surya Paloh, sebagaimana yang sudah kita ketahui, adalah seorang pengusaha dan juga politisi. Menjadi presiden di Indonesia bukanlah hal yang tidak bisa dicapai oleh Surya Paloh. Catatan-catatan keberhasilan dan ke-ngotot-annya dalam menguasai bisnis media bisa menjadi referensi untuk hal ini.
Saat memulai bisnis pers, Surya Paloh bukanlah seseorang yang memiliki latar belakang di bidang jurnalisme. Dunia pers adalah hal yang baru bagi Surya Paloh. Saat itu bisnis pers sudah terlebih dulu dikuasai oleh banyak pemain. Namun walaupun pasar pers telah ramai terisi dengan persaingan, Surya Paloh tetap ngotot dan bahkan ia berani mempertaruhkan modal dalam jumlah yang relatif besar, dengan melakukan terobosan-terobosan baru yang tidak biasa dilakukan oleh pengusaha-pengusaha media pendahulunya. Ia berani menghadapi risiko rugi atau bangkrut dan Ia sangat kreatif dan inovatif. Dan, Surya paloh berhasil.
Sebagai bos media pers terbesar di Indonesia, Surya Paloh memiliki modal dan fasilitas untuk meraih posisi RI-1. Pers punya kekuatan yang kuat dan di negara-negara barat pers dikenal sebagai lembaga keempat setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif. Sering sekali pers mempublikasikan beberapa tokoh dalam politik, tokoh dari berbagai disiplin ilmu atau masyarakat sehingga mereka menjadi besar dan berpengaruh. Seseorang tidaklah akan memiliki nama besar apabila pers memboikotnya. Dengan demikian, bisnis pers memanglah bergengsi karena pers akan memberi kebanggaan, kekuatan dan kekuasaan. Surya Paloh sangat menyadari hal ini dan tentunya dia akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam memuluskan perjalanannya menuju RI-1.
Untuk menuju posisi RI-1, sebagai langkah awal, Surya Paloh mencoba menjadi Ketua Umum partai Golkar. Sebab ketika terpilih nantinya, Surya Paloh akan lebih mudah melakukan manuver politik dan akan selalu menjadi objek pemberitaan di medianya, terutama Metro TV. Saya yakin bahwa Metro TV akan lebih menggembar-gemborkan citra Surya Paloh apabila dia berhasil terpilih sebagai ketua Umum Golkar. Namun sayangnya, Aburizal Bakrie terpilih sebagai Ketua Umum yang baru. Hal ini membuat Surya Paloh harus mencari cara lain agar media persnya memiliki alasan untuk sering memberitakan citranya kepada publik.
Nasional Demokrat di Metro TV
Mendirikan organisasi masyarakat Nasional Demokrat adalah cara brilian yang digunakan oleh Surya Paloh untuk menjadikan dirinya tetap sebagai objek berita sebagai upaya untuk mencitrakan dirinya di depan publik. Terlebih ketika wacana yang dikembangkan oleh Nasional Demokrat adalah Restorasi Indonesia, sebuah wacana ampuh untuk mengumpulkan dukungan publik pada saat publik sedang berpikir bahwa Indonesia harus dibenahi.
Beberapa program yang memang menjadi harapan publik dalam bidang politik, ekonomi dan budaya diwacanakan sehingga kehadiran Nasional Demokrat akan dianggap sebagai sebuah solusi ditengah keputusasaan dan kebuntuan bangsa. Metro TV akan sangat berperan sebagai pembanding dalam mengkampanyekan anggapan ini kepada publik dan secara cerdik, pada saat yang sama Metro TV juga secara terus menerus menggembar-gemborkan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi saat ini dalam pemerintahan dan politik sehingga publik akan bisa melihat dengan jelas wacana restorasi dari Nasional Demokrat adalah jalan keluar yang memang harus ditempuh oleh bangsa Indonesia.
Saya tidak heran jika Metro TV lebih sering mengedepankan kritikan terhadap pemerintah dan disaat yang sama iklan Nasional Demokrat lebih sering ditayangkan. Termasuk pidato-pidato Surya paloh yang ditayangkan lebih lama dari pidato Presiden atau politisi-politisi penting lainnya. Periode penayangan iklan Nasional Demokrat ini juga bisa jadi tanpa batas hingga tujuan Surya Paloh tercapai. Surya Paloh akan menjadikan Nasional Demokrat ini sebagai sarana untuk mengarahkan publik agar dia bisa mencalonkan dirinya sebagai salah satu calon presiden periode 2014-2019. Tentunya terlebih dahulu, Surya Paloh akan menjadikan Nasional Demokrat ini sebagai salah satu partai politik yang akan mencoba memenangkan pemilu tahun 2014.
Surya Paloh Sebagai Calon Presiden
Saya kira Surya Paloh punya kemungkinan memenangkan Nasional Demokrat atau setidaknya menjadikan Nasional Demokrat ini sebagai sebuah partai baru yang memiliki suara dalam urutan 3-5 besar. Sebab, Surya Paloh punya Metro TV dan media lainnya sebagai alat untuk mencitrakan partai barunya ini. Berita-berita yang baik tentang Nasional Demokrat akan mendapatkan porsi yang jauh lebih besar daripada berita tentang partai-partai yang menjadi lawannya. Terlebih lagi ketika Surya Paloh tidak harus membayar untuk iklan kampanye dirinya sebagai presiden dan melalui Metro TV serta media-media lain yang dimilikinya, Surya Paloh juga akan mudah mengatur pemberitaan yang baik tentang dirinya dan menyerang calon presiden lain sebagai lawan. Sekali lagi Surya Paloh memahami betul bahwa pers sangat memiliki kekuatan yang ajaib untuk bisa membesarkan dirinya dan atau partai politiknya.
Sebagai salah satu penduduk negeri ini yang mencoba untuk berpikir demokratis, saya menganggap apa yang dilakukan oleh Surya Paloh ini wajar-wajar saja. Selain karena dia memiliki uang, media dan kemampuan berpolitik, Surya Paloh juga memiliki hak-hak politik sebagaimana warga negara Indonesia lainnya. Saya berharap bahwa tujuan beliau memang benar-benar tulus untuk merestorasi bangsa ini dan jika memang jalan seperti ini yang harus ditempuhnya, saya akan memberikan apresiasi tinggi sepanjang apa yang dicitrakannya melalui cara ini akan benar-benar sesuai dengan kenyataan dalam merestorasi Indonesia (apa bila rakyat memang memilihnya sebagai presiden).
Namun yang menjadi kekhawatiran saya adalah jika tujuan Surya Paloh sebagai presiden nantinya tidak benar-benar tulus untuk merestorasi Indonesia. Apakah Metro TV akan menjadi seperti TVRI dimasa Orde Baru? Melihat apa yang terjadi pada Metro TV saat ini, sangat mungkin kekhawatiran saya tersebut terjadi nantinya. Saya berpikir bahwa jika Surya Paloh terpilih sebagai presiden, Metro TV akan lebih digunakan sebagai media dalam membangun citranya. Stasiun televisi ini akan sedikit sekali menayangkan berita-berita tentang kegagalan Surya Paloh dalam merestorasi Indonesia (apabila restorasi ini tidak terlaksana). Justru keberhasilan-keberhasilan yang tidak signifikan malah akan diperbesar untuk mendongkrak citra pemerintah. Dan yang sudah pasti, Metro TV akan lebih sering lagi mengekspos kekurangan pihak-pihak yang menjadi oposisi.
Secara umum ini akan membahayakan bangsa. Sebab rakyat akan bingung. Di satu sisi media memberitakan keberhasilan pemerintah dan di sisi yang lain (jika memang terjadi) rakyat merasakan kenyataan yang tidak sesuai dengan yang sering diberitakan. Seperti yang sering terjadi sekarang, rakyat tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dalam berbagai kasus karena kejahatan seseorang terkadang tergantung dari bagaimana pers memberitakannya.
Apa yang didengungkan oleh Metro TV tentang citranya saat ini sebagai televisi pengawal reformasi dan demokrasi akan sangat berkesan berkonflik dengan kepentingan pemiliknya ketika Surya Paloh terpilih nantinya sebagai presiden. Pemberitaannya akan memiliki nilai bias dan justru akan mengaburkan tujuan reformasi dan makna demokrasi itu sendiri. Jika Metro TV dan media lainnya sebagai media-media terbesar di Indonesia sudah menjadi alat pemerintah untuk mencitrakan pemerintahannya, apalagi yang bisa dipercaya oleh publik sebagai sarana untuk mengawasi dan mengontrol pemerintah? Mungkin publik akan kembali ke era Orde Baru yang selalu menikmati suguhan statistic-statistik palsu tentang keberhasilan pemerintah.
Sebagai warga negara, saya mencoba memberikan sudut pandang ini kepada Media Group, khususnya Metro TV agar kembali menjaga netrealitasnya sebagai media yang menggunakan ruang publik di Negara ini.
Saya juga mengusulkan agar Surya Paloh atau siapapun pemilik media lainnya untuk melepaskan saham dan statusnya sebagai pemilik atau pengelola media terlebih dahulu sebelum mencalonkan diri sebagai presiden.
Semua ini hanyalah untuk tetap menjaga netralitas pers sebagai salah satu kekuatan terbesar dalam mendewasakan demokrasi di tanah air ini.

Lupa Mimpi Apa

Apa yang paling mengesalkan saya dari sebuah mimpi? Jawabannya adalah ketika bangun tidur, saya tidak bisa mengingat lagi mimpi apa tadi malam. Padahal saya tahu bahwa saya telah bermimpi. Seakan-akan semua objek visual dan audio serta bagaimana cerita dalam mimpi tersebut terhapus tiba-tiba saja dari pikiran saat saya terbangun. Yang tinggal hanyalah perasaan dan kandungan emosional mimpi tersebut yang membuat saya sadar bahwa saya telah mengalami mimpi tadi malam.
Saat ini (lagi-lagi) saya kesal karena ketika saya terbangun tadi pagi, saya lupa mimpi apa. Padahal rasa-rasanya mimpinya menyenangkan sekali. Saya kesal ketika saya tidak tahu harus berbicara apa ketika saya ingin mengatakan tentang mimpi saya kepada teman-teman saya. Sampai saat saya menulis tulisan inipun saya masih penasaran mimpi apa saya tadi malam. Jadi saya lagi kesal saat ini.
Biasanya kalau lagi kesal, orang suka berbuat yang aneh-aneh. Memarahi orang lain, ngambek, mengutuki diri sendiri dan bahkan bisa saja tidak mau peduli lagi dengan orang lain. Tidak semua orang seperti itu barangkali. Ada juga yang jika lagi kesal lebih memilih diam tidak mau berbicara dan melakukan apapun. Tapi saya tidak kesal seperti itu kok. Saya cuma uring-uringan dengan diri sendiri kenapa saya tidak bisa mengingat sedikitpun mimpi apa saya tadi malam.
Apa yang saya alami ini sebenarnya sama persis dengan apa yang dialami Bangsa kita. Bangsa Indonesia. Sepertinya kita lagi kesal dengan kita yang merasa telah mengalami mimpi tetapi lupa mimpi apa itu. Kita lagi uring-uringan. Kekesalan kita terlihat dari kita yang membuat kondisi negeri ini menjadi negeri yang di dalamnya masih banyak orang miskin, negeri yang pendidikannya payah, negeri yang harga pangannya melambung, harga minyaknya kacau dan yang listriknya sering byar pet.
Kita lagi kesal dan uring-uringan sehingga kita jadi politikus-politikus yang tidak peduli lagi dengan rakyat. Kita korup, kita suka bohong dan terkadang kita ngambek dengan cara menyerang pendapat orang lain dengan cara yang jauh dari santun. Kita berunjuk rasa pakai lempar-lemparan dan kita tidak menganggap belum berunjuk rasa jika belum pakai ricuh-ricuhan. Kita lagi kesal sekarang karena kita lupa mimpi apa tadi malam sehingga kita membiarkan orang-orang di ujung Indonesia seperti Papua, Aceh dan dan di daerah-daerah perbatasan tidak maju-maju.
Kita lagi uring-uringan karena kita lupa mimpi apa sehingga kita bersikap seperti bangsa yang tanpa tuhan dan agama. Kita suka menghukum pencuri ayam dengan hukuman yang berat tapi kok pencuri uang rakyat atau koruptor hukumannya tidak sebanding dengan kejahatannya.
Kita lagi kesal sehingga kekesalan kita sering kita lampiaskan dengan menjelek-jelekkan ras dan suku lain. Kita tidak mau membuat semua orang itu sama dalam hukum. Kita lagi uring-uringan saat ini sehingga saat lagi musyawarah, kita suka memakai cara-cara yang jauh dari kekeluargaan (Coba lihat bagaimana anggota-anggota DPR kita yang terhormat jika lagi rapat).
Kita juga sering menempatkan kepentingan pribadi dan golongan di atas persatuan, kesatuan dan kepentingan serta keselamatan berbangsa dan bernegara sebab kita sekarang ini memang lagi kesal. Kita lupa mimpi apa sehingga kita kesal dan perilaku kita sudah tidak luhur lagi.
Kita sebagai Bangsa Indonesia lagi kesal dan uring-uringan saat ini sebab kita telah lupa bahwa dulunya Bangsa Indonesia telah bermimpi untuk menjadi bangsa yang berKetuhanan Yang Maha Esa, Bangsa yang Berkemanusiaan Yang Adil dan Beradab, bangsa yang bersatu dalam Indonesia, bangsa yang kerakyatannya dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan di dalam permusyawaratan/perwakilan dan bangsa yang keadilan sosialnya ditujukan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali.
Kita kesal dan uring-uringan saat ini karena kita lupa bahwa dulunya kita pernah bermimpi tentangPancasila. Mimpi tentang sebuah Bangsa Indonesia yang besar dan tetap berketuhanan, berkemanusiaan, bersatu, bermusyawarah dan adil bagi seluruh rakyatnya.
Bangsa kita yang terdiri dari Negaranya (pelaku birokrasi dan politik) dan Masyarakatnya (rakyat dan masyarakat ekonominya) seharusnya kembali mengingat mimpi ini. Negara yang Pancasialis (begitu kira-kira ungkapannya - jika tidak salah). Kita seharusnya mengingat dan mewujudkan kembali mimpi ini agar kita tidak terlihat sebagai Bangsa yang baru bangun dari tidur namun telah kehilangan mimpi besarnya sebagaimana yang telah dimimpikan oleh para Pendiri Bangsa ini dahulunya
Saat ini saya sudah tidak kesal dan uring-uringan lagi sebab saya sudah tahu mimpi apa saya tadi malam. Saya bermimpi tentang saya yang menulis di Kompasiana tentang Bangsa Indonesia yang lupa mimpi Pancasilanya. Sekarang saya senang sebab ini bukan hanya mimpi.
Semoga bermanfaat.

SBY dan Lovefoolosophy

Baby Baby, I feel these sweet sensations
Tahun 2004, adalah saat aku melihatnya pertama kali. Aku begitu jatuh cinta dengannya. Kewibawaan dan keanggunannya menyirami asa yang sudah layu. Aku begitu terpesona. Aku begitu bersemangat. Aku begitu bergairah. Aku lupa bahwa perutku sudah berteriak dari tadi. Nasi bungkus seharga Rp 8,000 yang isinya hanya telur mata sapi dan kuah, sudah lama dingin. Malam itu aku berdiri di depan sebuah rumah makan ketika dia berbicara dengan tenangnya di televisi. Aku terpaku dengan sentuhan cara berbicara dan kharismanya saat itu hingga seorang tukar parkir dengan kasar menghardik menyuruhku pindah dari tempatku berdiri untuk memberikan tempat bagi kendaraan-kendaraan yang akan parkir di depan warung.
Aku tidak peduli dan marah dengan hardikan itu dan langsung berlalu pergi. Hal yang seperti ini sudah biasa kualami sebagai seorang gadis jalanan berusia 14 tahun. Dalam perjalanan pulang menelusuri lorong-lorong sempit di antara bagian-bagian belakang pertokoan yang gelap, benakku dipenuhi dengan sensasi-sensasi manis dari semua ucapan dan gayanya yang kulihat tadi di televisi.
Honey honey, looks like a superstar
Aku menggelar sebuah kasur usang yang kudapatkan tadi pagi di tempat pembuangan sampah kota. Lumayanlah walau sudah tipis tapi bisa menggantikan kardus yang selama ini kupakai sebagai alas tidur. Sepertinya pemilik toko ini tidak punya masalah dengan keberadaanku yang sudah 2 minggu menempati bagian belakang tokonya di malam hari sebab biasanya penghuni-penghuni toko yang lain langsung mengusirku walaupun aku hanya duduk-duduk sebentar untuk sekedar beristirahat di siang hari.
Aku sedang membuka bungkusan makan malamku ketika si Gayus datang menghampiriku dan langsung mencumbuku. Dia minta dilayani seperti yang sering dilakukannya hampir setiap malam. Aku menolak karena hari ini aku merasa sangat letih setelah bekerja memulung botol air mineral dan bekerja mencuci piring seharian di sebuah rumah makan. Tapi dia tidak peduli dan dengan kasar melucuti bajuku. Aku meronta dan nasi bungkus yang akan kusantap berhamburan di kasur. Aku hanya pasrah ketika Gayus menikmati tubuhku.
Untuk menghibur diriku, kembali kuingat sensasi-sensasi manis yang kulihat di televisi tadi. Kubayangkan semua janjinya. Kubayangkan semua pesona dan kharismanya yang akan membuatku hidupku tidak lagi seperti ini nantinya. Kubayangkan kehidupan nyaman bersama ibuku di kampung dimana ayahku tidak lagi memukul ibu, dimana adik-adikku bisa kembali bersekolah. Kubayangkan ketika aku bisa menjadi seorang pemilik toko pakaian perempuan dengan barang dagangan yang selalu laris. Oh Tuhan, dia begitu terlihat sebagai superstar. Semua ucapannya, semua ketenangannya dan semua pancaran kewibawaannya memenuhi relung-relung tubuhku.
Lamunanku buyar ketika Gayus yang juga seorang anak jalanan melemparkan selembar uang sepuluh ribuan ke tubuhku. Aku sedikit gembira karena biasanya dia hanya memberiku Rp.5,000 setiap kali dia telah menggauliku. Walaupun begitu aku katakan kepadanya agar menambahkan Rp 5,000 lagi karena aku harus membeli makan malam kembali. Gayus yang lebih tua 3 tahun dariku menolak karena menurutnya nasi bungkus yang berhamburan itu masih cukup tersisa untuk kusantap.
She’ got a promise of love-struck fascination
Aku terbangun ketika Anggi datang. Sudah jam 09.30 pagi. Aku sudah telat untuk pergi ke pembuangan. Pastinya jam segini disana sudah dipenuhi pemulung-pemulung lain dan tidak banyak lagi barang bekas yang bisa kuambil dan kujual. Ya sudahlah, aku juga masih punya Rp.10,000 hari ini untuk makan siang nanti dan sedikit uang untuk membeli sabun dan shampoo. Aku bertanya kepada Anggi kemana saja dia pergi selama 3 hari ini. Anggi berkata bahwa 3 hari yang lalu Polisi Pamong Praja menangkapnya dengan paksa dan membawanya ke Panti Anak Jalanan milik pemerintah. Dia berhasil melarikan diri dari panti. Anggi juga bercerita bahwa pada saat penangkapan, Polisi-polisi Pamong Praja menjamah dan meraba-raba tubuhnya.
Anggi adalah seorang gadis jalanan seusiaku.Dia sudah lama putus sekolah dan berada di jalanan ini. Aku dan Anggi sebenarnya tidak begitu antusias membicarakan hal ini. Bagi kami hal-hal yang seperti ini sudah biasa terjadi dan kami menganggap semua ini seperti petualangan yang akan membuat kami semakin kreatif untuk bertahan dan menghadapi ketidak pedulian masyarakat di sekeliling kami. Tetapi pagi ini aku menangis di depan Anggi. Bukan tangisan pilu dan sedih seperti yang sering dibayangkan orang lain tentang anak-anak jalanan seperti kami. Tetapi aku menangisi asa yang baru saja kutemui dengan rasa bahagia. Asa yang sensasinya terasa begitu manis dan melambungkan impian-impian masa laluku ketika aku masih bersama ibuku. Kukatakan kepada Anggi bahwa tidak lama lagi kita akan keluar dari jalanan ini.
Seorang superstar tadi malam berbicara di televisi dengan kharisma dan pesonanya. Dia berjanji bahwa lapangan kerja akan sangat terbuka bagi kita, adik-adik kita bisa tetap bersekolah karena pendidikan gratis. Orang tua kita di kampung akan mudah mendapatkan modal usaha dan kakak Anggi juga bisa menjadi pegawai negeri sipil sebab ujiannya akan benar-benar bagus dan penerimaannya tidak lagi karena hubungan dekat dengan pejabat. Kukatakan juga kepada Anggi jika kampung kita nantinya tidak miskin lagi. Semua orang bisa kembali menanam padi di sawah sebab sawah-sawah di kampung kita nantinya akan akan mudah diairi sepanjang tahun. Harga pupuk akan murah dan kampung kita akan menjadi lumbung padi. Aku juga berkata bahwa Tidak lama lagi Anggi juga bisa mengobati sipilisnya hingga sembuh sebab nantinya kita tidak perlu membayar biaya pengobatan.
Anggi hanya skeptis mendengar semua yang kukatakan. Bagiku wajar Anggi bersikap seperti itu karena dia tidak menonton televisi tadi malam. Anggi tidak melihat bagaimana superstar itu berbicara dengan wibawa dan kharismanya. Anggi tidak melihatnya. Anggi tidak merasakan sensasi manis dari citra superstar itu.
Shimmers like a California sunset
Anggi melihat sinar cinta dari mataku ketika aku bercerita tentang superstar itu dan dia bertanya apakah saat ini aku sedang jatuh cinta. Kujelaskan padanya bahwa aku tidak bisa menghindari perasaan ini. Mungkin dia benar. Aku jatuh cinta dengan citranya. Aku tidak pernah melihat pria yang seperti itu sebelumnya. Kupinta Anggi untuk mendukungku. Anggi tetap skeptis. Kukatakan juga kepadanya apabila superstar itu memang benar-benar seseorang yang akan merubah hidup kita. Kupinta juga Anggi untuk tidak bersikap skeptis. Tapi Anggi hanya berkata kepadaku bahwa aku seperti seseorang yang terbuai dengan janji dan mimpi-mimpi indah dan akan sangat kecewa nantinya ketika sadar telah terbohongi.
Beberapa tahun yang lalu mungkin aku juga akan bersikap seperti Anggi. Tapi kali ini tidak. Apa yang kulihat dan kurasa, kharisma dan pesonanya memang nyata. Dan rasa cinta yang kualami ini bukan ilusi dan bukan sekedar karena daya tarik yang tiba-tiba. Tapi apa yang kurasa ini memang benar. Dia tidak seperti yang lainnya. Dia anggun, dia berwibawa, dia tenang. Aku yakin dialah yang akan membuat hidupku berubah. Dan saat ini aku dengan yakin mengatakan kepada Anggi bahwa aku memang telah jatuh cinta.
Anggi cuma memandangku tanpa ekspresi ketika dia menyalakan pemantik api untuk membakar sebatang rokok yang telah menempel di bibirnya. Setelah menghembuskan asap pertama, Anggi berkata kepadaku “ Tuti, jangan cepat percaya dengan janji dan bualan manis..”. Aku hanya tersenyum menanggapi Anggi. Aku pikir Anggi bersikap begitu karena dia memang belum melihat citra superstar itu.
Lady lady, glitters but theres no gold
Kami terdiam beberapa saat sebelum tiba-tiba anggi menarik tanganku dengan paksa dan mengajakku segera berlari. Aku tersentak dan melihat kearah dimana Anggi dengan ketakutan melihat rombongan polisi pamong praja berlari menghampiri kami. Mereka berteriak meminta kami berhenti. Kami tidak peduli. Yang kami lakukan hanyalah berlari dan terus berlari menelusuri lorong-lorong sempit pertokoan hingga tiba di sebuah pertigaan dimana kami terpisah. Aku berbelok ke kiri dan masuk ke sebuah rumah makan. Sambil pura-pura melihat menu aku duduk di sebuah meja dan memandang keluar saat polisi-polisi pamong praja itu menangkapi gelandangan dan anak-anak jalanan lainnya. Mereka mengangkut paksa anak-anak tersebut dengan sebuah truk dan seperti biasanya mereka akan dibawa ke panti-panti pemerintah yang bagi kami tempat dan suasana panti-panti itu sangat membosankan.
Pagi ini aku kembali berhasil selamat dari kejaran mereka dan tetap menganggap bahwa apa yang mereka katakan di koran-koran tentang usaha mereka sebagai upaya untuk menyelamatkan anak-anak bangsa itu hanyalah sebuah penindasan terhadap martabat kemanusiaan. Sebab ketika mereka melakukannya, kemanusiaan kami dipandang sebelah mata. Kami merasa seperti sampah. Mereka tidak pernah mau peduli bahwa kami juga tidak menginginkan hidup seperti ini dulunya. Kami korban dari keadaan yang kami sendiri tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubahnya. Kami korban dari situasi dimana kami tidak bisa mengendalikannya. Jadi jangan hukum kami sebagai pelaku. Jangan buang kami sebagai sampah. Kami juga sebenarnya ingin berubah, tapi bukan begini caranya untuk merubah hidup kami. Yang kami tahu hanyalah bertahan hidup. Bukan membuat hidup. Karena mimpi-mimpi kami sudah lama mati. Kami hanya ingin diperlakukan juga sebagai manusia.
Kembali terbayang kharisma dan pesona superstar yang kutonton tadi malam. Seandainya dia bersamaku saat ini, seandainya dia melihat begitu tidak dianggapnya kami sebagai manusia, aku yakin dia akan bisa merubahnya. Ketakutan dan kegelisahanku saat ini berubah menjadi pantulan gemerlap mimpi, ketika raut wajahnya yang tampan kembali melintas di benakku.
She carries sweetly infectious magic formulas
Saat ini aku kembali berjalan di jalanan untuk mencari botol-botol mineral bekas. Harga botol bekas ini tidak lagi tinggi seperti beberapa tahun yang lalu karena harga jual plastik sudah rendah. Kata mereka karena dollar sudah turun. Peduli apa aku dengan dollar? Yang jelas aku butuh uang untuk makan malam nanti. Sambil mengkais-kais tempat sampah, aku kembali membayangkan sang superstar.
Bagiku dialah yang akan merubah kehidupanku. Dia berkata bahwa orang-orang miskin di Indonesia tidak jadi miskin lagi nantinya. Harga-harga barang juga tidak mahal lagi. Aku membayangkan bahwa aku akan hidup enak. Ibu juga tidak perlu berjualan sirih lagi. Aku jadi senyum-senyum sendiri hingga tanpa sadar orang-orang yang melihatku menganggap aku sudah gila. Aku tidak peduli. Dia adalah seorang superstar yang dengan kilau kharismanya telah membuatku jatuh cinta. Cinta ini hanya untuknya karena aku tahu dia akan merubah hidupku. Aku akan memilihnya walaupun saat ini aku belum memiliki hak untuk melakukannya. Ini bukan hanya sekedar ilusi. Dia memberiku sinar saat senja mulai menyentuh wajahku. Biarlah harapan ini kusiram dan kupupuk setiap hari sebab aku yakin superstar ini akan membantuku mengejar mimpi-mimpiku yang telah lama mati. Kini citra superstar itu sudah menjadi infeksi yang menjalar di seluruh asa dan harapanku.
I’m so delirious, is she that serious?
Rahmad adalah seorang anak berusia 9 tahun yang sudah 4 tahun tinggal di jalanan ini. Yang dilakukannya hanyalah mengemis dan mengangkat barang-barang belanjaan orang di pasar untuk mendapatkan uang agar dia bisa selalu membeli lem untuk dihirup. Malam ini aku bersamanya ketika dia bercerita bahwa lubang duburnya sakit. Dia baru saja disodomi seseorang di belakang terminal. Dia merintih kesakitan dan memintaku untuk mengambilkan kaleng lemnya di sudut toko sebelah sana yang dia tinggalkan saat melarikan diri dari orang lain yang ingin menyodominya lagi. Aku pergi ke tempat itu dan mengambil kaleng lem tersebut dan memberikan kepadanya.
Dia memasukkan sebagian isi lem itu kedalam sebuah kantung plastik dan kemudian menghirupnya. Baru setelah itu dia berhenti merintih.Kukatakan kepadanya bahwa tidak lama lagi dia bisa keluar dari situasi ini sebab seorang superstar akan datang menyelamatkan kita. Aku juga menceritakan kepadanya berbagai hal yang sebenarnya aku belum mengerti. Superstar itu mengatakan bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami pertumbuhan sebanyak 6,6%, inflasi akan menjadi rata-rata 5,4%, jumlah penduduk miskin akan jadi 8,9 persen saja, jumlah pengangguran terbuka akan cuma sebanyak 5,1 %, kurs rupiah akan stabil, supremasi hukum akan ditegakkan dalam kasus pembunuhan Munir, menyelesaikan kasus aliran dana korupsi DKP 2004 kepada 5 Capres/Cawapres , menegakkan Pasal 33 UUD 1945 dengan Mengagendakan Privatisasi 44 BUMN, menyelesaikan masalah Ambalat dan menegakkan kedaulatan bangsa, menjaga politik bebas aktif dalam hubungan luar negeri dan menegakkan kredibilitas dalam kebijakan nepotisme (koruptif) untuk lumpur Lapindo.
Aku tertawa ketika bisa berbicara seperti itu. Sebegitu seriuskah cinta ini untuknya? Hingga aku mampu menghapal semua yang sering dikatakan oleh superstar itu? Walau tidak satupun yang bisa kupahami? Tapi terserahlah apapun maknanya. Yang jelas semua itu berasal dari seorang superstar yang citra dan kharismanya telah menyihirku untuk merasa jatuh cinta kepadanya. Mendengar ceritaku, Rahmad hanya berkata bahwa aku sedang mengigau.
Or is she bringing me on, I’ve been waiting so long
Kini sudah 7 tahun berlalu sejak diriku terinfeksi formula magis citra dan kharisma superstar itu. Asa yang semula melambung, cinta yang dulunya terbakar, kali ini berubah jadi kebencian dan rasa muak. Aku masih di jalanan dan tumbuh sebagai seorang gadis murahan sekarang yang menjual tubuhnya kepada tukang-tukang becak dan supir-supir bus. Kemaluanku rusak. Nanah dan amis tidak bisa kesembuhkan. Perih sekali rasanya. Tetapi tidak seperih ketika aku menemukan adik kandungku yang tertunduk lesu dengan tangan berbalut plastik berisi lem di sebuah sudut kota. Tidak seperih ketika aku menerima kabar bahwa Bapak telah meninggalkan Ibu. Tidak sesakit ketika ibu juga datang ke kota ini untuk mengemis. Tidak seperih perasaanku yang selalu melihat orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan keramahtamahan. Dan tidak seperih ketika menonton superstar yang memuakkan itu berbicara soal keberhasilannya meningkatkan persentase pertumbuhan ekonomi Negara ini. Tidak seperih ketika mendengar keluhan-keluhannya sebagai superstar yang ingin dibunuh dan yang gajinya tidak naik-naik selama 7 tahun.
What am I to do? How am I to know? Who you are
Bagiku bukanlah hal yang penting mengetahui peningkatan persentase pertumbuhan ekonomi. Bagiku yang penting adalah bagaimana agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, bagaimana agar ibuku bisa memiliki usaha, bagaimana agar adikku tidak lagi menghirup lem dan kembali bersekolah. Buang jauh-jauh citra dan kharisma mu dariku. Bagaimana aku bisa seyakin itu mencintaimu dulunya? Bagaimana aku bisa tahu dulunya bahwa kamu seorang pendusta? Bagaimana agar dulunya aku bisa tahu siapa kamu? Apa yang harus kulakukan sekarang untuk menghilangkan rasa perih ini?
When this love foolosophy is killing Previous illusions that I had in my mind about you
Terbayang kembali kata-kata Anggi saat dia mengatakan diriku seperti seseorang yang terbuai dengan janji dan mimpi-mimpi indah dan akan sangat kecewa nantinya ketika sadar bahwa telah terbohongi. “Tuti, jangan cepat percaya dengan janji dan bualan manis..” Penyesalan ini sepertinya tiada akhir. Aku tertipu dengan citranya dan semua itu ternyata hanya ilusi yang berada di benakku tentang dia yang tidak lebih dari seorang superstar yang hanya menginginkan ketenaran, pujaan dan kekuasaan. Kali ini aku hanya ingin bertemu dengan superstar itu untuk mengajaknya tidur bersamaku di jalanan agar dia tidak lagi sering mengeluh tentang dia yang ingin dibunuh dan atau tentang dia sebagai superstar yang gajinya tidak naik-naik. Aku ingin mengajak superstar itu berpikir apakah dia akan mengeluh ketika tidur di emperan-emperan belakang toko sendirian dengan nyamuk dan seseorang bisa saja dengan tiba-tiba memperlakukannya secara buruk. Aku ingin bertanya kepada superstar itu apakah dia akan mengeluh jika sedang merasakan perih dan amis pada kemaluan. Aku ingin bertanya kepada sang superstar itu apakah dia akan mengeluh ketika melihat adik dan ibunya juga menjadi keluarga jalanan? Aku ingin bertanya kepadanya apakah dia akan mengeluh jika cintanya dipermainkan oleh seorang superstar yang mengobral janji manis dengan citranya?
Seems so true, all the lies you’re telling Tragically compelling
Semua itu dulunya terlihat begitu nyata. Janji-janji solusinya terbalut dalam citra kharisma yang sangat menarik tetapi bohong. Oh Tuhan, kini aku telah menjadi gadis yang tidak akan pernah mau peduli lagi dengan seorang superstar. Begitu lama aku menunggu perubahan dan begitu besar asaku ketika mencintainya dan begitu besar rasa muakku saat ini.
My love it means nothing to you
Cinta yang kurasa selama ini tidak ada artinya bagi sang superstar. Dia adalah seorang superstar yang telah mengkhianati perasaan dan asaku. Aku terus berpikir dan tenggelam dengan perasaan sesal dan membiarkan diriku dibawa dan dijamah ketika polisi-polisi pamong praja itu menangkapiku dan memasukkanku ke dalam truk. Aku sudah tidak peduli lagi mereka akan membawaku kemana. Bagiku semua asa telah mati dan aku tahu aku akan tetap berada di jalanan selamanya ketika polisi-polisi itu kembali menghardikku dan mengatakan kepadaku bahwa keberadaanku di jalanan membuat kota ini menjadi tidak indah dan akan merusak citra pemerintah. Terserah aku tidak peduli lagi..
So maybe I’m still a love fool

Visit Banda Aceh Year 2011...Salah Objek Promosi

Ada beberapa komentar yang keluar dari mulut teman-teman kerja saya yang berasal dari luar negeri seperti Prancis, Luxemburg dan juga Austria ketika melihat kota Banda Aceh dan jalan-jalan ke hampir semua sudut kota ini.
“Wow…What a beautiful country..!”
“Banda Aceh has nice landscapes.”
“You should bring me to those hills on my next visits”
Agak sedikit tidak percaya dan surprised saat mendengar mereka bisa berkata seperti itu terutama ketika melihat bahasa tubuh mereka yang menjelaskan ekspresi takjub yang bukan dibuat-buat. Sebagai salah satu warga kota Banda Aceh, Saya berpikir sepertinya ekspresi mereka terlalu berlebihan. Namun ketika saya coba pahami, kekaguman mereka itu adalah sebuah hal yang wajar sebab semua yang mereka lihat di kota ini bukanlah hal yang biasa mereka dapatkan di negara-negara Eropa dimana mereka tinggal. Terlebih ketika saya berpikir bahwa kota Banda Aceh ini adalah satu kota di Indonesia dan berada dalam wilayah Asia Tenggara. Asia Tenggara memiliki keeksotisan tersendiri di bandingkan wilayah-wilayah Eropa. Orang Eropa suka mengunjungi Asia dan begitu juga sebaliknya. Sama saja seperti saya yang akan takjub jika melihat landscape-landscape di Negara mereka yang sangat berbeda dan mungkin saja saya bisa lebih takjub lagi dari mereka. Jadi pada awalnya, saya tidak begitu antusias mengiyakannya. Tetapi setelah saya sadar bahwa mereka sudah bertahun-tahun bekerja dan menetap di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand, Kamboja, Vietnam dan Laos, saya mulai berpikir bahwa apa yang mereka katakan itu bukanlah sesuatu yang mengada-ngada sebab bagaimana mungkin bagi mereka yang telah lama menikmati negara-negara Asia Tenggara lainnya masih bisa merasa kagum dan kegirangan ketika melihat kota Banda Aceh. Ini adalah kekaguman yang luar biasa tentunya.
Banda Aceh memang memiliki landscape yang indah. Jika kita menebar pandangan kearah Barat, Selatan dan Timur, kota kecil ini di kelilingi oleh barisan pegunungan dan perbukitan sementara di bagian utaranya terdapat pantai-pantai yang cukup indah. Beberapa sungai besar juga membelah kota ini. Tidak heran mereka bisa berkata seperti itu. What a beautiful landscape. Pantai, gunung dan sungai menjadi satu di kota ini. Jika saya pikir, kota kecil ini sebenarnya memiliki suasana yang romantis.
Tapi sayang, pemerintah kota masih kurang kreatif memanfaatkan keindahan landscape dan keromatisan kota ini. Objek dan fasilitas wisata yang telah dibangun sepertinya belum mampu mengeksplorasi keindahan dan keromantisannya. Fasilitas dan objek wisata juga telihat biasa-biasa saja dan kurang menarik bahkan minim pemeliharaan. Masih terlihat bahwa sepertinya kota ini masih banyak membutuhkan sentuhan tangan arsitek-arsitek muda professional untuk merancang dan membangun fasilitas-fasilitas dan objek pariwisatanya.
Pada tahun 2011 ini pemerintah kota telah memulai kampanye promosi wisata Visit Banda Aceh Year 2011 dimana aspek kebudayaan Islami dan dan Tsunami dijadikan sebagai daya tarik andalan. Beberapa tempat dijadikan situs wisata andalan seperti Mesjid Raya Baiturrahman yang memang sangat luar biasa keindahan dan sejarahnya, Museum Tsunami (yang saya pikir tidak ada apa-apanya selain memamerkan foto-foto Tsunami dan arsitektur), Gunongan (taman untuk Putri Pahang di Jaman Iskandar Muda dulunya) dan beberapa makam-makam bersejarah. Terdapat juga beberapa sisa dari bencana Tsunami yang diandalkan sebagai objek wisata seperti Kapal PLTD apung yang terdampar sejauh 3-5 kilometer di wilayah kota dan sebuah kapal nelayan besar yang masih berada di atas sebuah rumah.
Saya kira pilihan-pilihan tersebut menarik, tetapi tidak fantastis dan fenomenal untuk menarik banyak wisatawan datang ke kota Banda Aceh. Saya pesimis bahwa pilihan-pilihan wisata andalan yang dipromosikan tersebut bisa mengundang banyak pelancong untuk mengunjungi Banda Aceh. Terutama wisatawan mancanegara. Soalnya situs-situs ini hanya menjual daya tarik yang aksidental bukan sebagai sesuatu yang ingin dikunjungi. Seharusnya situs-situs ini harus lebih dilihat sebagai situs pelengkap dan bukanlah andalan.
Potensi utama yang menjadi daya tarik yang sebenarnya adalah keindahan landscape kota ini yang memang luar biasa. Bagi saya, jika pemerintah kota ingin mempromosikan kota Banda Aceh sebagai kota tujuan wisata, objek dan fasilitas-fasilitas wisata harus dikembangkan secara kreatif agar wisatawan bisa melihat keindahan landscape dan merasakan keromantisan kota ini. Baru kemudian situs-situs budaya islami dan Tsunami dijadikan sebagai pelengkap wisata yang akan menambah daya tarik. Pemerintah kota seharusnya jangan memfokuskan pengembangan wisata Tsunami saja sebagai sesuatu yang dipromosikan tetapi jauh lebih menarik apabila memanfaatkan ketenaran Aceh di mancanegara karena Tsunami untuk mempromosikan keindahan landscapenya.

Ice Age 4...The Continental Drift

Masalah-masalah yang berkaitan dengan pergerakan lempeng tektonik adalah hal yang saya sukai saat ini. Mungkin sebabnya adalah karena begitu banyaknya bencana alam yang terjadi di Indonesia. Awal ketertarikan saya bisa saja ketika bencana gempa dan Tsunami  melanda Aceh dan Nias tahun 2004 yang lalu.
Dari sekian banyak informasi yang saya baca termasuk salah satunya dari buku Simon Winchester berjudul Krakatoa, saya mengambil kesimpulan bahwa Indonesia adalah tempat yang berbahaya di dunia. Negara kita terletak pada lempeng Eurasia yang dari jaman dahulu tertekan terus menerus oleh lempeng Australia. Lebih parahnya lagi ketika lempeng Australia tersubduksi maka hal ini menyebabkan tekanan terhadap magma pada lempeng Eurasia terutama di wilayah pinggiran lempeng akan meningkat. Tentu saja wilayah pinggiran lempeng ini adalah Indonesia, yakni Sumatera dan Jawa. Sebagaimana yang kita ketahui, hal inilah yang menjelaskan mengapa bencana-bencana terbesar di dunia seperti gempa dan erupsi gunung berapi terjadi di Indonesia seperti erupsi gunung Toba, Tambora, Krakatau, tsunami Aceh dan Nias dan lain-lain.
Mengetahui hal ini adalah sesuatu yang menarik bagi saya walaupun saya tidak memiliki latar belakang ilmu geologi. Lebih jauh, ketertarikan saya pada masalah-masalah lempeng tektonik mungkin saja terjadi karena saya sangat suka mencari tahu tentang apa yang telah terjadi dulunya di dunia. Siapa saja yang telah hidup dan bagaimana rupa dunia dulunya saat masih sunyi dari peradaban. Ketika dunia masih sepi dari kekacauan politik, polusi dan korupsi.
Saya suka segala sesuatu yang berhubungan dengan alam semesta ini. Kekaguman saya ini seperti menggambarkan sesuatu yang selalu saya cari. Sesuatu yang berada pada masa lalu. Saya tidak begitu tahu apa yang saya cari-cari itu. Saya juga tidak yakin apakah ini hanya kerinduan saya terhadap masa lalu ketika kedua orang tua saya masih ada. Mungkin saja ini disebabkan karena penyesalan bahwa saya tidak pernah mensyukuri setiap waktu keberadaan orang tua saya saat itu dan saya memang belum mengerti bagaimana menjelaskan apa yang saya cari. Yang jelas ketertarikan saya ini menggambarkan sebuah kerinduan. Tetapi saya tidak bisa memahami dengan begitu yakin kerinduan tentang apa.
Saya juga sadar bahwa dunia telah berubah bentuk. Benua-benua telah bergeser dari tempat mereka semula seperti yang dijelaskan pada Teori Tektonik Lempeng dan yang juga menyimpulkan bahwa perubahan tersebut akan terus terjadi sampai kapanpun.
Seperti juga kehidupan. Kehidupan akan selalu bergeser. Kehidupan akan selalu berpindah dari tempatnya pertama-tama sekali. Ini berarti saya harus menerima setiap perubahan yang terjadi di dalam hidup saya. Saat-saat indah di masa lalu tidak akan pernah bisa saya dapatkan kembali saat ini. Jadi berusaha untuk mendapatkan saat-saat indah itu kembali adalah sesuatu yang harus saya hentikan saat ini. Sebab sebagaimana benua. kehidupan saya telah bergeser dan tidak akan pernah kembali ke tempatnya semula.
Sekarang saatnya bagi saya untuk menciptakan saat-saat indah yang baru atau mensyukuri semua keadaan, situasi dan orang-orang yang masih bersama saya saat ini. Saya harus melakukannya karena saya sadar mereka akan bergeser, bergerak atau berpindah dan tidak akan pernah kembali lagi. Dan saat nantinya ketika mereka telah berpindah, saya yakin bahwa saya akan mengalami kerinduan yang mendalam. Atau mungkin saja sebaliknya ketika saya yang akan bergeser, menjauh dan berpindah dan tetap saja saya akan menyesali ketidakmampuan saya mensyukuri semuanya.
Saat ini mensyukuri semua perbahan dan pergeseran hidup adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan oleh manusia. The Continental Drift adalah sequel ke empat dari film Ice Age yang kabarnya akan dirilis di bulan Juli 2011. Saya suka film ini.