Baby Baby, I feel these sweet sensations
Tahun 2004, adalah saat aku melihatnya pertama kali. Aku begitu jatuh cinta dengannya. Kewibawaan dan keanggunannya menyirami asa yang sudah layu. Aku begitu terpesona. Aku begitu bersemangat. Aku begitu bergairah. Aku lupa bahwa perutku sudah berteriak dari tadi. Nasi bungkus seharga Rp 8,000 yang isinya hanya telur mata sapi dan kuah, sudah lama dingin. Malam itu aku berdiri di depan sebuah rumah makan ketika dia berbicara dengan tenangnya di televisi. Aku terpaku dengan sentuhan cara berbicara dan kharismanya saat itu hingga seorang tukar parkir dengan kasar menghardik menyuruhku pindah dari tempatku berdiri untuk memberikan tempat bagi kendaraan-kendaraan yang akan parkir di depan warung.
Aku tidak peduli dan marah dengan hardikan itu dan langsung berlalu pergi. Hal yang seperti ini sudah biasa kualami sebagai seorang gadis jalanan berusia 14 tahun. Dalam perjalanan pulang menelusuri lorong-lorong sempit di antara bagian-bagian belakang pertokoan yang gelap, benakku dipenuhi dengan sensasi-sensasi manis dari semua ucapan dan gayanya yang kulihat tadi di televisi.
Honey honey, looks like a superstar
Aku menggelar sebuah kasur usang yang kudapatkan tadi pagi di tempat pembuangan sampah kota. Lumayanlah walau sudah tipis tapi bisa menggantikan kardus yang selama ini kupakai sebagai alas tidur. Sepertinya pemilik toko ini tidak punya masalah dengan keberadaanku yang sudah 2 minggu menempati bagian belakang tokonya di malam hari sebab biasanya penghuni-penghuni toko yang lain langsung mengusirku walaupun aku hanya duduk-duduk sebentar untuk sekedar beristirahat di siang hari.
Aku sedang membuka bungkusan makan malamku ketika si Gayus datang menghampiriku dan langsung mencumbuku. Dia minta dilayani seperti yang sering dilakukannya hampir setiap malam. Aku menolak karena hari ini aku merasa sangat letih setelah bekerja memulung botol air mineral dan bekerja mencuci piring seharian di sebuah rumah makan. Tapi dia tidak peduli dan dengan kasar melucuti bajuku. Aku meronta dan nasi bungkus yang akan kusantap berhamburan di kasur. Aku hanya pasrah ketika Gayus menikmati tubuhku.
Untuk menghibur diriku, kembali kuingat sensasi-sensasi manis yang kulihat di televisi tadi. Kubayangkan semua janjinya. Kubayangkan semua pesona dan kharismanya yang akan membuatku hidupku tidak lagi seperti ini nantinya. Kubayangkan kehidupan nyaman bersama ibuku di kampung dimana ayahku tidak lagi memukul ibu, dimana adik-adikku bisa kembali bersekolah. Kubayangkan ketika aku bisa menjadi seorang pemilik toko pakaian perempuan dengan barang dagangan yang selalu laris. Oh Tuhan, dia begitu terlihat sebagai superstar. Semua ucapannya, semua ketenangannya dan semua pancaran kewibawaannya memenuhi relung-relung tubuhku.
Lamunanku buyar ketika Gayus yang juga seorang anak jalanan melemparkan selembar uang sepuluh ribuan ke tubuhku. Aku sedikit gembira karena biasanya dia hanya memberiku Rp.5,000 setiap kali dia telah menggauliku. Walaupun begitu aku katakan kepadanya agar menambahkan Rp 5,000 lagi karena aku harus membeli makan malam kembali. Gayus yang lebih tua 3 tahun dariku menolak karena menurutnya nasi bungkus yang berhamburan itu masih cukup tersisa untuk kusantap.
She’ got a promise of love-struck fascination
Aku terbangun ketika Anggi datang. Sudah jam 09.30 pagi. Aku sudah telat untuk pergi ke pembuangan. Pastinya jam segini disana sudah dipenuhi pemulung-pemulung lain dan tidak banyak lagi barang bekas yang bisa kuambil dan kujual. Ya sudahlah, aku juga masih punya Rp.10,000 hari ini untuk makan siang nanti dan sedikit uang untuk membeli sabun dan shampoo. Aku bertanya kepada Anggi kemana saja dia pergi selama 3 hari ini. Anggi berkata bahwa 3 hari yang lalu Polisi Pamong Praja menangkapnya dengan paksa dan membawanya ke Panti Anak Jalanan milik pemerintah. Dia berhasil melarikan diri dari panti. Anggi juga bercerita bahwa pada saat penangkapan, Polisi-polisi Pamong Praja menjamah dan meraba-raba tubuhnya.
Anggi adalah seorang gadis jalanan seusiaku.Dia sudah lama putus sekolah dan berada di jalanan ini. Aku dan Anggi sebenarnya tidak begitu antusias membicarakan hal ini. Bagi kami hal-hal yang seperti ini sudah biasa terjadi dan kami menganggap semua ini seperti petualangan yang akan membuat kami semakin kreatif untuk bertahan dan menghadapi ketidak pedulian masyarakat di sekeliling kami. Tetapi pagi ini aku menangis di depan Anggi. Bukan tangisan pilu dan sedih seperti yang sering dibayangkan orang lain tentang anak-anak jalanan seperti kami. Tetapi aku menangisi asa yang baru saja kutemui dengan rasa bahagia. Asa yang sensasinya terasa begitu manis dan melambungkan impian-impian masa laluku ketika aku masih bersama ibuku. Kukatakan kepada Anggi bahwa tidak lama lagi kita akan keluar dari jalanan ini.
Seorang superstar tadi malam berbicara di televisi dengan kharisma dan pesonanya. Dia berjanji bahwa lapangan kerja akan sangat terbuka bagi kita, adik-adik kita bisa tetap bersekolah karena pendidikan gratis. Orang tua kita di kampung akan mudah mendapatkan modal usaha dan kakak Anggi juga bisa menjadi pegawai negeri sipil sebab ujiannya akan benar-benar bagus dan penerimaannya tidak lagi karena hubungan dekat dengan pejabat. Kukatakan juga kepada Anggi jika kampung kita nantinya tidak miskin lagi. Semua orang bisa kembali menanam padi di sawah sebab sawah-sawah di kampung kita nantinya akan akan mudah diairi sepanjang tahun. Harga pupuk akan murah dan kampung kita akan menjadi lumbung padi. Aku juga berkata bahwa Tidak lama lagi Anggi juga bisa mengobati sipilisnya hingga sembuh sebab nantinya kita tidak perlu membayar biaya pengobatan.
Anggi hanya skeptis mendengar semua yang kukatakan. Bagiku wajar Anggi bersikap seperti itu karena dia tidak menonton televisi tadi malam. Anggi tidak melihat bagaimana superstar itu berbicara dengan wibawa dan kharismanya. Anggi tidak melihatnya. Anggi tidak merasakan sensasi manis dari citra superstar itu.
Shimmers like a California sunset
Anggi melihat sinar cinta dari mataku ketika aku bercerita tentang superstar itu dan dia bertanya apakah saat ini aku sedang jatuh cinta. Kujelaskan padanya bahwa aku tidak bisa menghindari perasaan ini. Mungkin dia benar. Aku jatuh cinta dengan citranya. Aku tidak pernah melihat pria yang seperti itu sebelumnya. Kupinta Anggi untuk mendukungku. Anggi tetap skeptis. Kukatakan juga kepadanya apabila superstar itu memang benar-benar seseorang yang akan merubah hidup kita. Kupinta juga Anggi untuk tidak bersikap skeptis. Tapi Anggi hanya berkata kepadaku bahwa aku seperti seseorang yang terbuai dengan janji dan mimpi-mimpi indah dan akan sangat kecewa nantinya ketika sadar telah terbohongi.
Beberapa tahun yang lalu mungkin aku juga akan bersikap seperti Anggi. Tapi kali ini tidak. Apa yang kulihat dan kurasa, kharisma dan pesonanya memang nyata. Dan rasa cinta yang kualami ini bukan ilusi dan bukan sekedar karena daya tarik yang tiba-tiba. Tapi apa yang kurasa ini memang benar. Dia tidak seperti yang lainnya. Dia anggun, dia berwibawa, dia tenang. Aku yakin dialah yang akan membuat hidupku berubah. Dan saat ini aku dengan yakin mengatakan kepada Anggi bahwa aku memang telah jatuh cinta.
Anggi cuma memandangku tanpa ekspresi ketika dia menyalakan pemantik api untuk membakar sebatang rokok yang telah menempel di bibirnya. Setelah menghembuskan asap pertama, Anggi berkata kepadaku “ Tuti, jangan cepat percaya dengan janji dan bualan manis..”. Aku hanya tersenyum menanggapi Anggi. Aku pikir Anggi bersikap begitu karena dia memang belum melihat citra superstar itu.
Lady lady, glitters but theres no gold
Kami terdiam beberapa saat sebelum tiba-tiba anggi menarik tanganku dengan paksa dan mengajakku segera berlari. Aku tersentak dan melihat kearah dimana Anggi dengan ketakutan melihat rombongan polisi pamong praja berlari menghampiri kami. Mereka berteriak meminta kami berhenti. Kami tidak peduli. Yang kami lakukan hanyalah berlari dan terus berlari menelusuri lorong-lorong sempit pertokoan hingga tiba di sebuah pertigaan dimana kami terpisah. Aku berbelok ke kiri dan masuk ke sebuah rumah makan. Sambil pura-pura melihat menu aku duduk di sebuah meja dan memandang keluar saat polisi-polisi pamong praja itu menangkapi gelandangan dan anak-anak jalanan lainnya. Mereka mengangkut paksa anak-anak tersebut dengan sebuah truk dan seperti biasanya mereka akan dibawa ke panti-panti pemerintah yang bagi kami tempat dan suasana panti-panti itu sangat membosankan.
Pagi ini aku kembali berhasil selamat dari kejaran mereka dan tetap menganggap bahwa apa yang mereka katakan di koran-koran tentang usaha mereka sebagai upaya untuk menyelamatkan anak-anak bangsa itu hanyalah sebuah penindasan terhadap martabat kemanusiaan. Sebab ketika mereka melakukannya, kemanusiaan kami dipandang sebelah mata. Kami merasa seperti sampah. Mereka tidak pernah mau peduli bahwa kami juga tidak menginginkan hidup seperti ini dulunya. Kami korban dari keadaan yang kami sendiri tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubahnya. Kami korban dari situasi dimana kami tidak bisa mengendalikannya. Jadi jangan hukum kami sebagai pelaku. Jangan buang kami sebagai sampah. Kami juga sebenarnya ingin berubah, tapi bukan begini caranya untuk merubah hidup kami. Yang kami tahu hanyalah bertahan hidup. Bukan membuat hidup. Karena mimpi-mimpi kami sudah lama mati. Kami hanya ingin diperlakukan juga sebagai manusia.
Kembali terbayang kharisma dan pesona superstar yang kutonton tadi malam. Seandainya dia bersamaku saat ini, seandainya dia melihat begitu tidak dianggapnya kami sebagai manusia, aku yakin dia akan bisa merubahnya. Ketakutan dan kegelisahanku saat ini berubah menjadi pantulan gemerlap mimpi, ketika raut wajahnya yang tampan kembali melintas di benakku.
She carries sweetly infectious magic formulas
Saat ini aku kembali berjalan di jalanan untuk mencari botol-botol mineral bekas. Harga botol bekas ini tidak lagi tinggi seperti beberapa tahun yang lalu karena harga jual plastik sudah rendah. Kata mereka karena dollar sudah turun. Peduli apa aku dengan dollar? Yang jelas aku butuh uang untuk makan malam nanti. Sambil mengkais-kais tempat sampah, aku kembali membayangkan sang superstar.
Bagiku dialah yang akan merubah kehidupanku. Dia berkata bahwa orang-orang miskin di Indonesia tidak jadi miskin lagi nantinya. Harga-harga barang juga tidak mahal lagi. Aku membayangkan bahwa aku akan hidup enak. Ibu juga tidak perlu berjualan sirih lagi. Aku jadi senyum-senyum sendiri hingga tanpa sadar orang-orang yang melihatku menganggap aku sudah gila. Aku tidak peduli. Dia adalah seorang superstar yang dengan kilau kharismanya telah membuatku jatuh cinta. Cinta ini hanya untuknya karena aku tahu dia akan merubah hidupku. Aku akan memilihnya walaupun saat ini aku belum memiliki hak untuk melakukannya. Ini bukan hanya sekedar ilusi. Dia memberiku sinar saat senja mulai menyentuh wajahku. Biarlah harapan ini kusiram dan kupupuk setiap hari sebab aku yakin superstar ini akan membantuku mengejar mimpi-mimpiku yang telah lama mati. Kini citra superstar itu sudah menjadi infeksi yang menjalar di seluruh asa dan harapanku.
I’m so delirious, is she that serious?
Rahmad adalah seorang anak berusia 9 tahun yang sudah 4 tahun tinggal di jalanan ini. Yang dilakukannya hanyalah mengemis dan mengangkat barang-barang belanjaan orang di pasar untuk mendapatkan uang agar dia bisa selalu membeli lem untuk dihirup. Malam ini aku bersamanya ketika dia bercerita bahwa lubang duburnya sakit. Dia baru saja disodomi seseorang di belakang terminal. Dia merintih kesakitan dan memintaku untuk mengambilkan kaleng lemnya di sudut toko sebelah sana yang dia tinggalkan saat melarikan diri dari orang lain yang ingin menyodominya lagi. Aku pergi ke tempat itu dan mengambil kaleng lem tersebut dan memberikan kepadanya.
Dia memasukkan sebagian isi lem itu kedalam sebuah kantung plastik dan kemudian menghirupnya. Baru setelah itu dia berhenti merintih.Kukatakan kepadanya bahwa tidak lama lagi dia bisa keluar dari situasi ini sebab seorang superstar akan datang menyelamatkan kita. Aku juga menceritakan kepadanya berbagai hal yang sebenarnya aku belum mengerti. Superstar itu mengatakan bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami pertumbuhan sebanyak 6,6%, inflasi akan menjadi rata-rata 5,4%, jumlah penduduk miskin akan jadi 8,9 persen saja, jumlah pengangguran terbuka akan cuma sebanyak 5,1 %, kurs rupiah akan stabil, supremasi hukum akan ditegakkan dalam kasus pembunuhan Munir, menyelesaikan kasus aliran dana korupsi DKP 2004 kepada 5 Capres/Cawapres , menegakkan Pasal 33 UUD 1945 dengan Mengagendakan Privatisasi 44 BUMN, menyelesaikan masalah Ambalat dan menegakkan kedaulatan bangsa, menjaga politik bebas aktif dalam hubungan luar negeri dan menegakkan kredibilitas dalam kebijakan nepotisme (koruptif) untuk lumpur Lapindo.
Aku tertawa ketika bisa berbicara seperti itu. Sebegitu seriuskah cinta ini untuknya? Hingga aku mampu menghapal semua yang sering dikatakan oleh superstar itu? Walau tidak satupun yang bisa kupahami? Tapi terserahlah apapun maknanya. Yang jelas semua itu berasal dari seorang superstar yang citra dan kharismanya telah menyihirku untuk merasa jatuh cinta kepadanya. Mendengar ceritaku, Rahmad hanya berkata bahwa aku sedang mengigau.
Or is she bringing me on, I’ve been waiting so long
Kini sudah 7 tahun berlalu sejak diriku terinfeksi formula magis citra dan kharisma superstar itu. Asa yang semula melambung, cinta yang dulunya terbakar, kali ini berubah jadi kebencian dan rasa muak. Aku masih di jalanan dan tumbuh sebagai seorang gadis murahan sekarang yang menjual tubuhnya kepada tukang-tukang becak dan supir-supir bus. Kemaluanku rusak. Nanah dan amis tidak bisa kesembuhkan. Perih sekali rasanya. Tetapi tidak seperih ketika aku menemukan adik kandungku yang tertunduk lesu dengan tangan berbalut plastik berisi lem di sebuah sudut kota. Tidak seperih ketika aku menerima kabar bahwa Bapak telah meninggalkan Ibu. Tidak sesakit ketika ibu juga datang ke kota ini untuk mengemis. Tidak seperih perasaanku yang selalu melihat orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan keramahtamahan. Dan tidak seperih ketika menonton superstar yang memuakkan itu berbicara soal keberhasilannya meningkatkan persentase pertumbuhan ekonomi Negara ini. Tidak seperih ketika mendengar keluhan-keluhannya sebagai superstar yang ingin dibunuh dan yang gajinya tidak naik-naik selama 7 tahun.
What am I to do? How am I to know? Who you are
Bagiku bukanlah hal yang penting mengetahui peningkatan persentase pertumbuhan ekonomi. Bagiku yang penting adalah bagaimana agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, bagaimana agar ibuku bisa memiliki usaha, bagaimana agar adikku tidak lagi menghirup lem dan kembali bersekolah. Buang jauh-jauh citra dan kharisma mu dariku. Bagaimana aku bisa seyakin itu mencintaimu dulunya? Bagaimana aku bisa tahu dulunya bahwa kamu seorang pendusta? Bagaimana agar dulunya aku bisa tahu siapa kamu? Apa yang harus kulakukan sekarang untuk menghilangkan rasa perih ini?
When this love foolosophy is killing Previous illusions that I had in my mind about you
Terbayang kembali kata-kata Anggi saat dia mengatakan diriku seperti seseorang yang terbuai dengan janji dan mimpi-mimpi indah dan akan sangat kecewa nantinya ketika sadar bahwa telah terbohongi. “Tuti, jangan cepat percaya dengan janji dan bualan manis..” Penyesalan ini sepertinya tiada akhir. Aku tertipu dengan citranya dan semua itu ternyata hanya ilusi yang berada di benakku tentang dia yang tidak lebih dari seorang superstar yang hanya menginginkan ketenaran, pujaan dan kekuasaan. Kali ini aku hanya ingin bertemu dengan superstar itu untuk mengajaknya tidur bersamaku di jalanan agar dia tidak lagi sering mengeluh tentang dia yang ingin dibunuh dan atau tentang dia sebagai superstar yang gajinya tidak naik-naik. Aku ingin mengajak superstar itu berpikir apakah dia akan mengeluh ketika tidur di emperan-emperan belakang toko sendirian dengan nyamuk dan seseorang bisa saja dengan tiba-tiba memperlakukannya secara buruk. Aku ingin bertanya kepada superstar itu apakah dia akan mengeluh jika sedang merasakan perih dan amis pada kemaluan. Aku ingin bertanya kepada sang superstar itu apakah dia akan mengeluh ketika melihat adik dan ibunya juga menjadi keluarga jalanan? Aku ingin bertanya kepadanya apakah dia akan mengeluh jika cintanya dipermainkan oleh seorang superstar yang mengobral janji manis dengan citranya?
Seems so true, all the lies you’re telling Tragically compelling
Semua itu dulunya terlihat begitu nyata. Janji-janji solusinya terbalut dalam citra kharisma yang sangat menarik tetapi bohong. Oh Tuhan, kini aku telah menjadi gadis yang tidak akan pernah mau peduli lagi dengan seorang superstar. Begitu lama aku menunggu perubahan dan begitu besar asaku ketika mencintainya dan begitu besar rasa muakku saat ini.
My love it means nothing to you
Cinta yang kurasa selama ini tidak ada artinya bagi sang superstar. Dia adalah seorang superstar yang telah mengkhianati perasaan dan asaku. Aku terus berpikir dan tenggelam dengan perasaan sesal dan membiarkan diriku dibawa dan dijamah ketika polisi-polisi pamong praja itu menangkapiku dan memasukkanku ke dalam truk. Aku sudah tidak peduli lagi mereka akan membawaku kemana. Bagiku semua asa telah mati dan aku tahu aku akan tetap berada di jalanan selamanya ketika polisi-polisi itu kembali menghardikku dan mengatakan kepadaku bahwa keberadaanku di jalanan membuat kota ini menjadi tidak indah dan akan merusak citra pemerintah. Terserah aku tidak peduli lagi..
So maybe I’m still a love fool